Hari-hari berikutnya berubah menjadi sesuatu yang ganjil bagiku. Tidak lebih ringan, tidak lebih mudah, tetapi seperti arah emosinya berpindah. Dulu aku tersiksa karena terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak masuk akal tentang aku dan Mas Bhre. Sekarang, setelah sekian lama, pikiranku tidak lagi sibuk bertanya apakah dia memikirkan aku, apakah dia sengaja menjauh, apakah dia membalas chat dengan nada tertentu karena ada perasaan tertentu.
Semua pertanyaan itu seperti dipukul runtuh oleh kenyataan yang jauh lebih besar.
Orang yang dicintainya meninggal.
Sedangkan aku ada di sini, berdiri beberapa langkah dari laki-laki itu setiap hari, melihat bagaimana seseorang berusaha tetap hidup sambil membawa separuh dirinya yang seperti ikut dikubur.
Mas Bhre kembali bekerja seperti biasa, tetapi tidak ada satu pun orang di kantor yang benar-benar merasa semuanya biasa saja. Felicity tetap berisik, tetap penuh suara keyboard, bunyi mesin kopi pantry, rapat mendadak, revisi deck presentasi, deadline klien, dan anak-anak kantor yang bercanda sambil setengah mengeluh soal kerjaan. Namun, ada sesuatu yang berubah di ritme kantor sejak ia kembali.
Bukan karena Mas Bhre jadi pemarah. Ia tetap sopan dan responsif, tetap bisa menjelaskan revisi dengan runtut sambil sesekali melucu pendek. Hanya saja, energinya seperti lebih tenang. Lebih sunyi. Ia tidak lagi mengirim meme absurd jam sebelas malam ke grup kecil divisi riset. Tidak lagi tiba-tiba nyeletuk tentang teori komunikasi lalu menghubungkannya dengan tulisan belakang truk. Ia masih tersenyum, tetapi senyumnya sekarang terasa seperti sesuatu yang dipasang dengan hati-hati.
Aku merasa lebih takut melihatnya baik-baik saja seperti itu. Aku tahu ia pasti tidak baik-baik saja.
Pagi itu aku datang lebih cepat karena harus menyelesaikan revisi laporan stakeholder mapping untuk klien kawasan industri. Aku sengaja duduk dekat jendela supaya bisa fokus, sambil meminum kopi pantry yang rasanya selalu terlalu pahit kalau dibuat sendiri. Celine belum datang. Rara baru mengirim pesan bahwa ia masih terjebak macet di Batam Centre. Kantor masih agak kosong.
Aku sedang menatap layar laptop ketika suara langkah itu terdengar. Aku langsung tahu itu dia. Bahkan setelah semua yang terjadi, tubuhku masih mengenali langkah kaki Mas Bhre lebih cepat daripada pikiranku sendiri.
"Pagi, Vi."
Aku menoleh cepat. "Pagi, Mas."
Ia sudah berdiri di samping mejaku sambil membawa mug hitam kesayangannya. Rambutnya masih sedikit berantakan seperti habis mengacak-ngacak sendiri ketika berpikir. Kemeja biru gelapnya digulung sampai siku. Wajahnya tampak lebih kurus dibanding beberapa minggu lalu, tetapi anehnya justru terlihat lebih muda.
“Udah datang pagi aja,” katanya.
“Iya, Mas. Banyak revisi semalam.”
“Mana coba lihat.”
Ia menarik kursi kosong di sebelahku dan duduk begitu saja, mendekat ke layar laptopku. Aroma kopi dan parfum samar itu langsung membuat dadaku menegang. Sudah sekian lama aku mencoba menjaga jarak emosional dari laki-laki ini, tetapi sekarang semuanya terasa berbeda. Aku tidak lagi ingin memilikinya. Aku hanya ingin ia tidak terlalu sedih.
Mas Bhre membaca laporanku dengan serius. Sesekali ia menunjuk beberapa bagian.
“Yang ini bagus. Cuma bagian conclusion-nya jangan terlalu akademis. Klien kita bukan dosen komunikasi.”
Aku tertawa kecil. “Iya, Mas. Kadang aku lupa dunia nyata nggak semua orang suka teori.”
“Makanya saya ada buat menyeimbangkan hidup kamu.” Kalimat itu diucapkannya sambil santai, nyaris tanpa ekspresi khusus, tetapi entah kenapa tetap membuat jantungku bergerak aneh.
Ia masih seperti ini. seperti biasa masih bisa bercanda, masih bisa membuat dunia terasa hangat. Aku malah jadi sedih karenanya.
“Mas...,” ujarku.
“Ya, Vi?”
Aku menatap layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan. “Mas nggak usah maksa kuat terus juga nggak apa-apa.”
Ia diam.
Karenanya untuk beberapa detik aku pikir aku salah bicara. Namun kemudian ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kantor sebentar, lalu menghela napas pendek.
“Saya nggak lagi maksa kuat, Vi.” Nada suaranya tenang sekali. “Saya cuma lagi belajar hidup aja sekarang. Bedanya itu doang.”