Ceceku, Vania, adalah sosok yang selalu membuat orang berhenti beberapa detik ketika melihatnya. Cantik sekali. Bukan cantik yang sekadar putih dan tinggi, tetapi benar-benar cantik dalam cara yang membuat orang langsung mengerti kenapa sejak SMA sampai sekarang selalu ada laki-laki yang mengejarnya. Rambutnya panjang bergelombang dan selalu rapi, cara bicaranya lembut, cara tertawanya anggun, bahkan cara memegang gelas kopi pun seperti perempuan-perempuan di drama China yang hidupnya sempurna. Belum lagi otaknya cerdas. Dulu ranking bagus, kuliah bagus, kerja bagus, lalu menikah dengan laki-laki mapan dan sekarang tinggal nyaman di Australia bersama dua anak lucu yang selalu berpipi merah di foto-foto keluarga mereka.
Kalau orang melihat keluarga kami dari luar, pasti mereka berpikir Mama melahirkan dua anak perempuan dengan spesifikasi yang berbeda jauh. Ceceku seperti perempuan yang diciptakan untuk menjadi istri dan ibu. Sedangkan aku, entahlah. Aku seperti draft yang belum selesai diedit Tuhan.
Namun, sebagai adiknya, tentu saja aku tahu sisi lain Ce Vania. Jujur saja, kadang dia menyebalkan sekali.
Video call malam itu awalnya biasa saja. Mama yang menelepon dari rumah lalu mendadak menyerahkan ponselnya ke Vania karena katanya aku “lebih nyambung” ngobrol sama ceceku itu. Bohong besar. Kami justru sering debat hal-hal aneh.
“Eh, Vi, rambut kau makin panjang ya,” kata Vania sambil menggendong anak bungsunya yang masih balita.
“Kau juga makin kayak sosialita Australia.”
“Memang.”
Aku mendengus.
Beberapa menit kemudian pembicaraan mengalir ke hubungan dan pernikahan karena entah bagaimana Mama mulai membahas anak teman gereja yang baru tunangan. Aku sudah mau kabur dari topik itu ketika Vania tiba-tiba tertawa kecil.
“Makanya, Vi, jangan terlalu idealis soal pasangan. Cowok tuh ya diseleksi aja yang bener.”
“Nyeleksi manusia kok kayak milih apartemen.”
“Ya memang harus selektif dong.”
Aku memutar mata. “Cece tuh kadang kejam.”
“Lah, memang salah? Kita kan berhak milih.”
“Nggak salah sih... cuma kadang kau tuh terlalu sadar kalau banyak yang suka sama kau.”
Vania malah tertawa bangga.
“Ya terus kenapa? Memang kenyataannya begitu.”
“Songong banget.”
“Denger ya,” katanya sambil menunjuk kamera, “perempuan tuh jangan mau susah. Kalau ada yang lebih cocok, lebih mapan, lebih nyambung, ya dipilih.”
Aku diam sebentar sebelum akhirnya nyeletuk pelan. “Terus kalau suamimu nanti tahu sifat asli kau yang nyebelin ini gimana, Ce?”
Vania tertawa keras sekali sampai anaknya ikut bingung.
“Ya biarin. Kalau dia memang jodohku, dia harus mau menerima.”
“Cece juga harus mau berubah dan berkorban dong demi suami.”
“Berisik ah. Kayak pengalaman aja pacaran.”
“Iya deh, yang mantannya banyak.”
“Kita berhak milih, Vivi. Berhak seleksi.”
Aku mendengus lagi, tetapi diam-diam memikirkan kalimat itu cukup lama. Mungkin memang itu bedanya kami. Vania hidup di dunia yang membuat cinta terasa seperti proses menemukan pasangan terbaik. Ada pilihan, ada seleksi, ada kemungkinan baru kalau hubungan gagal. Sedangkan aku, bahkan sampai umur tiga puluh tahun, aku rasanya masih tidak benar-benar mengerti cinta itu apa.
Aku cuma tahu satu hal, kalau mencintai seseorang, harus ada pengorbanan di dalamnya. Dan ironisnya, itu justru kupelajari dari melihat Mas Bhre.
Hari-hari di kantor berjalan semakin aneh sesudah ia kembali bekerja penuh. Semua orang berusaha memperlakukannya normal, tetapi tetap ada kehati-hatian di sana. Anak-anak kantor tidak lagi terlalu berisik kalau melewati ruangannya. Nada bercanda sedikit diturunkan. Bahkan anak magang yang biasanya suka nyelonong masuk ruangan sambil ketawa-ketawa sekarang jadi mengetuk pintu dulu.
Namun, Mas Bhre sendiri seperti tidak memberi kesempatan orang lain untuk terlalu mengasihaninya, sehingga malah itu yang membuat semua orang makin khawatir. Kalau ia marah-marah atau mendadak menghilang mungkin terasa lebih manusiawi. Tetapi ini? Ia seperti memaksa dirinya tetap berjalan lurus di atas rel.
“Mas Bhre tuh serem ya,” bisik Rara suatu siang di pantry.
“Serem gimana?” tanyaku.
“Ya... kuat banget.”
Aku diam sambil mengaduk kopi.
Celine ikut menimpali, “Makanya aku malah takut. Orang kalau terlalu kuat tuh biasanya nyimpen semuanya sendiri.”
Aku langsung teringat wajah Mas Bhre malam-malam di kantor, duduk sendiri di depan laptop dengan mata lelah tetapi tetap tenang. Dadaku terasa sesak lagi.