Aku tidak tahu keberanian dari mana yang membuatku akhirnya berkata, “Mas, besok makan di luar yuk.”
Kalimat itu keluar begitu saja di sela meeting sore, ketika anak-anak lain sudah bubar dan tinggal aku yang masih membereskan kabel HDMI seperti staf event murahan. Mas Bhre sedang berdiri sambil membaca sesuatu di tablet-nya ketika aku mengucapkannya.
Ia mendongak perlahan. “Hah?”
“Makan,” ulangku.
“Kita biasanya juga makan,” jawabnya asal.
“Bukan. Maksudku... keluar.”
“Kamu mau meeting informal?”
“Nggak.”
“Terus?”
Aku sendiri bingung menjelaskan alasannya. Masa aku bilang karena aku ingin melihatnya berada di tempat ramai, terang, penuh suara manusia dan kehidupan, bukan terus-terusan di kantor atau rumah yang sekarang pasti terasa terlalu sepi?
Akhirnya aku cuma berkata, “Bosen aja makan sekitar kantor terus.”
Mas Bhre menatapku beberapa detik, lalu tertawa kecil.
“Boleh. Mau ke mana?”
Entah kenapa dan bagaimana, mulutku menjawab cepat sekali.
“Grand Mall Nagoya.”
Ia langsung tertawa lebih keras. “Wah. Kita jadi anak gaul Batam.”
“Mas jangan menghina Grand Mall.”
“Saya nggak menghina. Saya cuma kaget kamu ngajak saya ke tempat yang lampunya lebih terang daripada masa depan saya.”
Aku memukul lengannya pelan sambil tertawa meskipun besoknya kami benar-benar pergi.
Dan jujur saja, itu absurd. Karena setahuku, aku dan Mas Bhre sebenarnya sama-sama bukan manusia mall.
Aku suka diam di kamar sambil baca novel, nonton video esai tentang filsafat internet dan komunikasi media sosial jam dua pagi, atau duduk di coffee shop kecil yang lampunya kuning redup sambil overthinking kehidupan. Sedangkan Mas Bhre lebih aneh lagi. Ia suka duduk di cafe tenang mendengarkan musik lama, kadang jazz, kadang lagu-lagu lawas Indonesia yang bahkan lebih tua dari umurku. Sesekali ia suka jalan sendiri ke toko alat tulis atau toko buku, lalu pulang membawa buku sejarah setebal batu bata yang tidak akan disentuh manusia normal. Namun sore itu kami malah jalan berdampingan di tengah Grand Mall Nagoya yang ramai sekali.
Dan lucunya, kami sama-sama terlihat seperti orang udik.
“Eh, ini sekarang ada ginian?” tanyaku sambil menunjuk claw machine super besar penuh boneka, berbeda dengan deretan claw machine ‘normal’ lainnya.
Mas Bhre ikut berhenti. “Ya Tuhan. Dulu Nagoya Hill cuma toko baju sama parfum.”
“Itu mah zaman dinosaurus, Mas.”
“Eh, saya masih muda, ya,” protesnya.
“Mas lahir pas Indonesia belum merdeka.”
“Fitnah.”
Aku ketawa keras sampai beberapa orang menoleh.
Mall itu penuh suara manusia. Anak-anak kecil berlari. Lagu pop Korea diputar terlalu keras dari toko kosmetik. Bau parfum bercampur bau roti panggang dan kopi. Dan entah kenapa, setelah cukup lama, aku melihat Mas Bhre benar-benar tertawa tanpa terlihat memaksa.
Ia masih tampak lelah, tentu saja. Dukanya tidak hilang begitu saja hanya karena berjalan di mall tidak jelas bersama perempuan bawahannya. Namun setidaknya hari itu ia terlihat hidup.
“Kita makan apa?” tanyanya kemudian.
“Udon.”
“Wah. Anak Jaksel sekali.”
“Sekarang tiba-tiba Mas sok tua. Padahal suka udon.”
Ia mengangguk santai. “Iya sih.”
Kami akhirnya duduk berhadapan sambil membawa nampan masing-masing seperti dua mahasiswa rantau kehabisan uang. Aku memperhatikan Mas Bhre memandang dapur terbuka tempat pegawai Marugame membuat udon.
“Mas suka apanya dari makanan Jepang?”
“Suka konsepnya.”
“Lah kok konsep?”
“Iya. Mereka tuh aneh. Makanan sederhana bisa dianggap serius banget.”
Aku tertarik mendengar nadanya yang mulai hidup seperti biasa.
“Coba jelaskan.”