Aku sebenarnya tidak bisa menyetir.
Lucu ya, umur sudah tiga puluh, kerja di perusahaan konsultan yang sering harus presentasi, revisi, berhadapan dengan klien, bahkan sesekali ikut proyek lintas kota, tapi untuk urusan paling sederhana seperti mengendarai mobil sendiri saja aku tidak bisa. Dulu waktu kuliah sempat mau belajar serius, tetapi selalu gagal karena satu dan lain hal. Papa protektif. Mama terlalu cemas. Aku sendiri terlalu malas menghadapi jalanan Batam yang menurutku mengerikan. Jadi akhirnya semua orang menyerah.
Aku tinggal sendiri di apartemen kecil di Batam Centre, tetapi “sendiri”-ku sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Papa dan Mama terlalu sayang untuk membiarkan aku sepenuhnya mandiri. Mereka membolehkan aku tinggal di apartemen supaya dekat kantor, tidak capek bolak-balik, dan belajar hidup dewasa, tetapi ada syarat tidak tertulis yang lama-lama berubah jadi peraturan keluarga.
Minimal seminggu sekali aku harus pulang.
“Muka kau harus kelihatan,” kata Mama suatu kali. “Kalau tidak, Mama curiga kau mati di apartemen.”
“Ma…”
“Serius. Nanti jatuh di kamar mandi gimana?” ujar Mama lagi, dan raut wajahnya serius.
Papa malah lebih parah. Ia sering mendadak video call malam-malam hanya untuk memastikan aku benar-benar ada di apartemen dan bukan diculik orang. Pernah satu kali ia sendiri menyetir mobil menjemputku dari tempat kerja untuk pulang tanpa diskusi terlebih dahulu. Aku protes seprotes-protesnya sampai aku yakin Papa tidak akan menjemput aku lagi di tempat kerja seperti sedari kecil sampai kuliah. Kadang Mama mengirim makanan satu kulkas penuh seperti aku sedang bersiap menghadapi kiamat.
Aku memang sebenarnya tidak pernah benar-benar marah soal itu. Mungkin karena aku tahu aku memang anak yang paling dimanja.
Ceceku, Vania, sudah “dilepas” sejak lama. Kuliah luar negeri. Kerja. Menikah. Pindah negara. Sedangkan aku selalu jadi anak bungsu yang dijaga terlalu rapat. Papa Mama percaya aku pintar, percaya aku baik, percaya aku bisa hidup sendiri, tetapi dalam waktu yang sama mereka juga seperti tidak tega membiarkanku benar-benar sendirian.
Kadang aku merasa itulah alasan kenapa aku tumbuh menjadi orang seperti sekarang. Mandiri, tapi nanggung. Kesepian, tapi tidak pernah benar-benar sendiri. Dicintai, tapi entah kenapa tetap sering merasa kosong.
Malam itu aku pulang ke rumah karena memang jadwal wajib mingguan. Taksi online menjemputku dari apartemen selepas magrib. Hujan yang memang kerap hadir sebentar-sebentar itu baru selesai turun, jalanan Batam masih basah dan memantulkan lampu kota seperti potongan kaca panjang.
Sepanjang perjalanan aku memandangi layar ponsel terlalu sering. Tidak ada chat baru dari Mas Bhre. Aku mendesah pelan lalu menyimpan ponsel ke tas, kesal pada diri sendiri. Sudah berapa kali aku bilang ke diri sendiri akan berhenti seperti ini?
Sampai rumah, aroma bawang putih tumis langsung menyambut dari dapur. Mama sedang memasak ikan kukus jahe favorit Papa. Rumah terasa hangat, terang, hidup. Ada suara televisi. Ada suara piring. Ada suara Papa yang ngomel soal berita politik entah apa. Kadang aku merasa rumah kami terlalu normal untuk menghasilkan manusia seaneh diriku.
“Mukamu capek kali,” komentar Mama begitu melihatku masuk.
“Kerja Ma.”
“Kerja terus. Nanti tua,” balas Mama.
“Ma, aku udah tiga puluh.”
“Nah itu dia.”
Aku tertawa kecil lalu duduk di meja makan. Papa melirikku dari ruang tengah sambil menurunkan kacamatanya sedikit.
“Siapa itu? Bhre, ya? Gimana dia?”
Aku langsung menoleh refleks.