Di taksi menuju coffee shop itu aku duduk menyandar ke jendela sambil memakai earphone, memutar lagu yang sama berulang-ulang seperti orang bodoh, “Sedia Aku Sebelum Hujan.”
Suara IDGITAF mengalun pelan di telingaku, bercampur dengan suara ban membelah jalanan Batam yang masih basah setelah hujan sore. Lampu kota memantul di aspal seperti garis-garis cair berwarna emas. Sopir di depan sesekali bersenandung lagu lain dari radionya sendiri, tetapi dunia kecilku malam itu cuma berisi suara musik dan isi kepala yang terlalu ramai.
Jadi waktu itu dingin, kuberi kau hangat... walaupun ku juga beku.
Dadaku meresponnya dengan rasa sesak. Aku memejamkan mata sebentar. Lirik itu terlalu dekat dengan Mas Bhre, terlalu dekat dengan bagaimana ia hidup beberapa bulan terakhir. Ia sedang hancur, lelah, kehilangan arah, tetapi tetap datang ke kantor dengan kemeja rapi, tetap menyelesaikan revisi, tetap bertanya apakah aku sudah makan, tetap mengingat detail-detail kecil tentang orang lain seolah dirinya sendiri tidak sedang runtuh.
Sedangkan aku, aku sadar selama ini aku juga diam-diam ingin menjadi tempat teduh kecil untuknya.
Tapi ku aman saat kau nyaman.
Aku tertawa lirih sendiri mendengar bagian itu. Memalukan sekali. Kenapa lagu-lagu selalu merasa perlu membongkar isi kepala manusia seperti ini? Aku memandang bayanganku sendiri di kaca jendela mobil. Wajahku terlihat lelah. Rambutku sedikit berantakan karena lembap. Tetapi entah kenapa aku malah tersenyum kecil.
Perih. Namun nikmat. Seperti menikmati luka yang sebenarnya tidak ingin disembuhkan.
Sudah paham 'kan sejauh ini? Ku yang lama di sini, menjagamu tak patah hati.
Aku menelan ludah pelan. Karena mungkin itu masalahnya. Aku memang sudah terlalu lama di sini. Terlalu lama mencintai laki-laki itu diam-diam sampai akhirnya rasa itu tumbuh menjadi bagian permanen dari hidupku sendiri. Bukan lagi sekadar naksir masa SMA. Bukan sekadar kagum. Bukan sekadar obsesi romantis perempuan dua puluhan. Ini sudah berubah menjadi sesuatu yang tenang, dalam, dan melelahkan. Sesuatu yang membuatku bahagia hanya karena bisa duduk satu mobil dengannya, ingin melindunginya, padahal jelas-jelas aku sendiri juga rapuh.
Sedia aku sebelum hujan. Apa yang kaubutuh, kuberikan.
Aku menggigit bibir bawahku pelan.
Astaga.
Lagu ini bahkan terdengar seperti pengakuan dosa. Karena bukankah selama ini memang begitu? Aku tidak pernah benar-benar berharap memiliki Mas Bhre. Aku hanya ingin ada. Ingin menemani. Ingin membuat hidupnya sedikit lebih ringan. Kalau bisa membuatnya tertawa lagi, aku sudah bahagia setengah mati.
Memang menyedihkan kalau mengingat bahwa aku mulai menemukan kebahagiaan bahkan dalam posisi yang tidak pernah benar-benar dipilih.
Jika tak setara, kumaafkan. Memang sebegitunya aku.
Aku mendesah panjang lalu menutup wajah sebentar dengan tangan.
“Ya ampun,” gumamku pelan sambil tertawa sendiri. Norak sekali.
Tetapi malam itu aku terlalu lelah untuk menyangkal apa pun.
Hujan kecil mulai turun lagi di luar mobil. Titik-titik air memburamkan lampu kota. Lagu itu terus berjalan sampai bagian akhirnya, dan aku merasa seperti sedang mendengarkan isi kepalaku sendiri dinyanyikan orang lain.
Soal cinta, aku jatuh.
Aku membuka chat Nadya sebelum keberanianku hilang.
>”Ada waktu malam ini?”
Beberapa menit kemudian balasannya muncul.
>“Darurat nggak?”
Aku tersenyum kecil.
>”Agak.”
>”Datang.”
Mungkin karena lagu itu, karena hujan, karena malam terasa terlalu sunyi dan terlalu jujur, aku akhirnya memutuskan berhenti menyimpan semuanya sendirian.
***
Aku ketemu Nadya di coffee shop kecil di wilayah yang tidak terlalu jauh dari apartemenku pada malam Kamis yang gerimis. Tempatnya sempit, lampunya kuning redup, playlist-nya jazz tua yang terlalu pelan untuk benar-benar didengar tetapi cukup untuk membuat orang merasa hidupnya sedang masuk film indie idealis yang tidak sukses. Tempat seperti ini biasanya dipenuhi mahasiswa sok filosofis atau pasangan yang pura-pura nyaman dalam diam. Entah kenapa malam itu justru sepi.
Entah bagaimana caranya, Nadya sampai lebih dahulu dan duduk di pojok. Ia mengenakan hoodie hitam oversized dan kacamata bulatnya yang membuat dia terlihat seperti dosen teori konspirasi yang tidak tidur tiga hari.
“Aku udah pesenin,” katanya sambil menggeser gelas ke arahku. “Es kopi gula aren buat mbak corporate burnout.”
“Makasih ya, manusia paranoid.”
“Paranoid keeps people alive.”
Yah, itulah Nadya. Selama aku mengenalnya, Nadya selalu hidup di antara teori konspirasi, podcast misteri, thread internet tak jelas, dan keyakinan bahwa pemerintah dunia menyembunyikan sesuatu dari umat manusia. Dia pernah serius menjelaskan padaku selama dua jam bahwa kemungkinan Atlantis itu nyata dan mungkin berada di Indonesia timur. Pernah juga mendadak mengirim video tentang kemungkinan bulan itu hollow structure.
Lebih aneh dariku kalau dipikir, tapi justru karena itu aku nyaman dengannya.
Jessica suka film horor dan hal-hal berdarah. Veronica terlalu normal dan waras untuk ukuran lingkaran pertemanan kami. Sedangkan Nadya? Nadya seperti orang yang hidup sedikit bergeser dari realitas umum. Dan mungkin itu sebabnya kami bisa berteman begitu lama tanpa saling menghakimi.
“Kenapa mukamu?” tanyanya sambil menyipitkan mata. “Kau kayak habis putus.”
Aku tertawa kecil. Kalau saja sesederhana itu.
“Capek, biasalah.”