Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #29

Makna

Aku mulai sadar bahwa mencintai Mas Bhre itu seperti berjalan di dalam lorong yang lampunya hidup mati. Kadang terang sekali sampai aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Terlihat sekali tatapan matanya yang hangat, rambutnya yang selalu sedikit berantakan menjelang sore, cara dia memanggil namaku pendek saja, “Vi,” seakan itu sudah cukup untuk membuat dunia terasa baik-baik saja. Namun, kadang lorong itu gelap mendadak, dan aku menabrak pikiranku sendiri. Menabrak harapan. Menabrak narasi. Menabrak rasa malu karena terlalu banyak berharap pada seseorang yang bahkan tidak pernah menjanjikan apa-apa.

Setelah istrinya tiada, aku mulai melihat sisi manusiawi Mas Bhre jauh lebih jelas daripada sebelumnya. Dulu, sewaktu masih SMA, lalu kuliah, lalu akhirnya bekerja satu kantor dengannya, aku selalu berpikir Mas Bhre itu jenis laki-laki yang stabil, tenang, dan dewasa. Hampir tidak pernah berubah mood. Bahkan kalau capek pun masih bisa bercanda. Bahkan kalau sibuk masih bisa membalas chat orang dengan sopan. Ia seperti tipe orang yang, entah bagaimana caranya, selalu mampu menjaga dunia di sekitarnya tetap nyaman.

Ada benarnya sih, tapi ternyata tidak seluruhnya seperti itu.

Selama bekerja di Felicity, aku pelan-pelan melihat retak-retak kecil itu. Cara dia kadang tiba-tiba diam terlalu lama di pantry sambil memegang kopi yang sudah dingin. Cara ia mendadak kehilangan fokus beberapa detik di tengah rapat lalu kembali normal seakan tidak terjadi apa-apa. Cara wajahnya terlihat jauh lebih tua ketika sore menjelang. Dan sekarang, setelah semuanya terjadi, aku baru sadar mungkin selama ini Mas Bhre memang sedang berjuang. Bukan cuma soal pekerjaan. Bukan cuma soal keluarga istrinya yang rumit. Tapi juga tentang dirinya sendiri.

Dulu, sebelum istrinya wafat, kantor sering bergosip soal mereka yang belum punya anak. Tidak kejam secara terang-terangan memang, tapi komentar seperti itu selalu ada. Kadang yang disalahkan istrinya. Kadang aku diam-diam berpikir, pasti ada juga yang menyalahkan Mas Bhre. Dunia memang suka begitu. Kalau pasangan menikah lama belum punya anak, semua orang mendadak merasa berhak menjadi hakim. Dan sekarang aku membayangkan, betapa lelahnya dia menghadapi semua itu bertahun-tahun sambil tetap datang ke kantor dengan wajah rapi dan suara tenang.

Mungkin itu sebabnya sekarang aku tidak lagi terlalu marah pada perubahan emosinya. Tidak lagi terlalu kesal ketika dia kadang hangat sekali, lalu beberapa hari kemudian menjadi biasa saja. Aku mulai percaya bahwa ini bukan permainan perasaan. Ini bukan tarik-ulur perhatian. Ini cuma manusia yang sedang berusaha bertahan hidup.

Sialnya, aku mencintai manusia yang sedang bertahan hidup itu.

 

***


Hari itu aku membeli makanan kecil di bawah kantor. Bukan sesuatu yang spesial, cuma roti kopi dan pastel panas karena aku tahu Mas Bhre sering lupa makan kalau sedang fokus bekerja. Aku bahkan hampir membatalkannya berkali-kali sebelum naik lift. “Jangan berlebihan, Vi,” kataku pada diri sendiri. “Jangan mulai lagi.”

Tapi tetap saja kakiku berjalan ke ruangannya.

Pintu ruangannya terbuka sedikit. Mas Bhre sedang duduk membungkuk di depan laptop, kemeja birunya digulung sampai siku, rambutnya lebih berantakan daripada biasanya. Hampir selalu. Wajahnya tampak lelah, tapi bukan lelah yang kacau. Lebih seperti seseorang yang sedang memaksa dirinya tetap berdiri.

“Aku taruh sini ya, Mas,” kataku pelan sambil mengangkat kantong kertas.

Dia mendongak. “Hah?”

“Makan dulu.”

Mas Bhre memandang makanannya beberapa detik, lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Bukan sedih. Bukan bahagia juga. Seperti disentuh terlalu pelan.

“Kamu ini,” katanya sambil tertawa kecil. “Saya jadi merasa jadi kayak anak TK.”

“Ya bagus dong. Berarti Mas masih ada yang ngurusin.”

“Bahaya kalau kamu ngomong gitu.”

Aku tak tahu maksudnya, dan tak berani menginterpretasikannya. Makanya aku langsung gugup sendiri dan buru-buru mundur. “Yaudah, aku kerja lagi.”

Lihat selengkapnya