Aku lupa sejak kapan Nadya mulai terlihat lelah. Atau mungkin aku yang tidak pernah memperhatikannya karena selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Dengan roller coaster perasaanku terhadap Mas Bhre. Dengan patah hati yang bahkan tidak punya status resmi. Dengan segala narasi dan kekacauan di kepalaku. Aku lupa bahwa orang-orang di sekitarku juga manusia. Bahwa mereka juga mungkin sedang berjuang diam-diam.
Nadya datang hampir jam sepuluh malam. Aku mendengar bunyi lift, lalu ketukan pendek di pintu apartemen. Ketika kubuka, dia berdiri dengan hoodie abu-abu kebesaran, rambut dikuncir asal, kacamata bulat sedikit turun dari batang hidungnya, dan celana super pendek yang membuat kaki putihnya terlihat panjang sekali. Tangannya membawa plastik minimarket berisi es krim, kopi botolan, dan dua bungkus keripik.
“Kalau aku mati malam ini gara-gara kolesterol, tolong bilang di berita bahwa aku wafat sebagai pejuang persahabatan,” katanya datar sambil masuk.
Aku tertawa geli.
Nadya memang begitu. Cantik sebenarnya. Sangat cantik malah. Jenis cantik chindo pucat dengan mata sayu dan fitur wajah lembut. Tapi dia seperti tidak pernah benar-benar peduli. Rambut asal. Hoodie terus. Sandal jepit ke mana-mana. Selama kuliah dulu cowok yang suka padanya banyak, tapi Nadya selalu terlihat seperti manusia yang terlalu malas untuk memproses romansa.
Atau mungkin, terlalu takut.
Ia langsung menjatuhkan diri ke sofa sambil menghela napas panjang. “Aku nyetir sambil mikir, kita ini kenapa ya hidupnya makin tua makin absurd.”
“Aku juga nggak tahu.”
“Dulu kita pikir umur tiga puluh itu stabil.”
“Kenyataannya kita malah jadi makin aneh.”
“Betul.”
Aku mengambilkan gelas, lalu duduk di lantai depan sofa. Untuk beberapa menit kami hanya makan keripik sambil menonton lampu-lampu Batam dari balkon apartemenku. Ada kenyamanan aneh dalam diam bersama Nadya. Persahabatan kami memang selalu begitu. Tidak terlalu intens. Tidak terlalu posesif. Tidak terlalu romantis seperti persahabatan perempuan di film-film. Kadang kami bisa tidak bicara berminggu-minggu lalu tiba-tiba nongkrong sampai jam dua pagi seakan tidak ada jeda.
Dulu aku pikir itu normal. Sekarang aku mulai ragu.
“Aku capek, Nad,” kataku akhirnya pelan.
Nadya menatapku dari balik kacamatanya. “Karena Mas Bhre?”
Aku mengangguk.
Dan seperti biasanya, begitu mulai bicara, semuanya keluar begitu saja. Tentang Mas Bhre yang mengacak rambutku lagi. Tentang kalimat “saya tahu saya diperhatikan”. Tentang janji bahwa suatu hari nanti dia akan bercerita kepadaku kalau sudah siap. Tentang betapa bahagianya aku karena hal kecil seperti itu. Tentang betapa bingungnya aku setelahnya.
Nadya mendengarkan tanpa memotong. Sesekali hanya mengangguk kecil sambil memeluk lututnya sendiri.
“Aku tuh capek sama pikiranku sendiri,” kataku sambil tertawa pahit. “Satu kalimat bisa aku bedah jadi tesis. Satu interaksi bisa bikin aku bahagia sekaligus overthinking dalam waktu bersamaan. Aku bahkan nggak lagi minta dibalas atau berharap macam-macam. Tapi ternyata sayang sama orang itu memang melelahkan, ya.”
“Itu karena kau serius.”
“Aku nggak tahu ini serius atau sakit jiwa.”