Orang bilang masa berkabung itu sekitar satu tahun. Aku tidak tahu teori itu benar atau tidak. Tapi kalau melihat Mas Bhre, mungkin memang ada benarnya. Duka tidak hilang begitu saja, hanya berubah bentuk. Sama seperti cinta mungkin, ia berevolusi. Dari sesuatu yang menghancurkan tubuh, menjadi sesuatu yang tinggal diam di belakang mata.
Selama setahun itu, aku melihat sendiri bagaimana seorang manusia berusaha menyusun dirinya kembali. Anehnya, salah satu perjuangan terbesar Mas Bhre justru bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan supaya orang lain tetap bisa hidup normal di sekitarnya.
Ia tidak pernah mengatakan itu secara langsung. Tidak pernah pidato soal “ayo jangan kasihan sama saya”. Tidak pernah memasang wajah tabah berlebihan seperti tokoh sinetron religius menjelang Ramadan. Tapi semua orang di kantor lama-lama mengerti sendiri. Dari cara ia tetap datang tepat waktu. Dari cara ia tetap ikut tertawa ketika ada lelucon tidak jelas di pantry. Dari cara ia tetap memarahi revisi yang ngawur. Dari cara ia masih mau membahas teori komunikasi selama empat puluh menit hanya karena ada anak magang bertanya sesuatu.
Seakan-akan ia sedang bilang, hidup memang berantakan, tapi kerjaan tetap jalan, kopi tetap diminum, dan manusia tetap harus bergerak.
Dan entah bagaimana, itu berhasil, it works.
Felicity tetap hidup. Produktif malah.
Kadang aku melihat Mas Bhre dari kubikelku ketika sore menjelang. Wajahnya sudah tidak setegang dulu. Lingkar matanya masih ada, tentu saja. Semua orang juga kelihatan lelah kalau jam lima sore di kantor ini. Tapi ada sesuatu yang kembali menyala pelan-pelan di dirinya. Sinar itu. Hangat itu. Sesuatu yang dulu membuat murid-murid SMA dan mahasiswa jatuh kagum kepadanya.
Aku tidak mau terlalu percaya diri dengan berpikir bahwa aku punya andil besar dalam proses setahun penuh itu. Namun, aku juga tidak bisa bohong bahwa rasa sayangku terhadapnya sudah berubah bentuk menjadi sesuatu yang nyaris seperti misi pribadi. Kadang malah terasa obsesif. Aku ingin Mas Bhre tertawa. Titik. Bahkan kalau cuma sedikit. Bahkan kalau cuma satu kali sehari. Lucunya, seakan Mas Bhre sadar bahwa dirinya masih “diurus”.
Maka ia mulai melakukan hal-hal kecil yang membuatku merasa dihargai. Bukan gestur besar. Justru yang kecil-kecil. Membalas story WhatsApp-ku dengan meme bapak-bapak. Lagi-lagi mengirim gambar aneh soal sejarah bubur atau tulisan truk seperti “Hidup itu keras, makanya jangan pakai batu.” Kadang mengirim foto kopi paginya dengan caption: “Saya menemukan tempat yang buburnya lumayan tidak menghina budaya Nusantara.”
Aku biasanya membalas,
> “Mas itu kalau ngomong bubur beneran kayak ngomongin filsafat Yunani.”
> “At least lebih berguna daripada filsafat postmodernisme yang kamu suka.”
Interaksi kami tidak lagi seintens dulu. Tidak lagi sampai begadang chat berjam-jam. Tidak lagi membuatku panik kalau satu hari tidak dibalas. Tapi aku senang karena itu justru terasa lebih sehat. Atau setidaknya aku berusaha meyakini itu.
Sementara itu hidup teman-temanku juga bergerak ke arah masing-masing. Veronica sudah punya anak laki-laki umur beberapa bulan, pipinya bulat dan mukanya selalu terlihat bingung seperti habis membaca teori Marx. Jessica baru hamil dan mendadak berubah menjadi manusia yang tiap tiga jam mengirim foto makanan di grup.
> “Gue pengen seblak level lima,” tulis Jessica jam sembilan pagi.
> “Anakmu nanti lahir ngomong goblok anjir,” balas Nadya.
Perkumpulan kami jelas berubah. Veronica dan Jessica sekarang punya dunia baru yang tidak sepenuhnya bisa kupahami. Obrolan mereka mulai dipenuhi daycare, vitamin kehamilan, jadwal imunisasi, dan drama mertua. Tapi anehnya tidak ada yang benar-benar menjauh. Hanya ritmenya berbeda saja.
Aku dan Nadya justru jadi semakin dekat. Bukan tipe dekat yang posesif atau lengket setiap hari, tapi lebih seperti dua orang yang akhirnya belajar hadir dengan benar untuk satu sama lain. Nadya mulai sering menelponku tiba-tiba cuma untuk bilang, “Aku lagi takut sama hidup, boleh ngobrol?” dan aku juga mulai lebih jujur soal pikiranku terhadap Mas Bhre.
Kadang aku bahkan bercanda menjodohkannya dengan salah satu rekan kerja di Felicity.
“Nad, si Kevin data analyst itu kayaknya suka sama kamu.”
“Ogah. Mukanya terlalu rajin.”