Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #32

Jilid

Aku pernah berpikir bahwa cinta selalu harus memiliki tujuan. Tujuan itu bisa berarti memiliki pasangan, sehingga memiliki status, kemudian bisa dianggap memiliki masa depan, serta memiliki kemungkinan.

Namun, setelah semua yang terjadi bersama Mas Bhre, aku mulai mempertanyakan itu semua. Sebab kalau dipikir-pikir, bahkan dalam keadaan seperti sekarang pun aku sebenarnya sudah bahagia. Aku bisa bahagia melihat dia kembali tertawa tanpa dipaksa. Aku bahagia melihat wajahnya tidak lagi dipenuhi kelelahan emosional yang dulu seperti menempel permanen di bawah matanya. Aku dapat bahagia melihat ia mulai bisa menikmati hidup lagi tanpa rasa bersalah terhadap dirinya sendiri. Dan lebih dari itu, aku bahagia karena tahu bahwa apa yang kulakukan untuknya selama ini tidak sia-sia. Ia menghargainya. Ia tahu dirinya diperhatikan. Ia tahu ada orang yang benar-benar peduli terhadapnya.

Bukankah itu sudah cukup? Maka, aku mulai belajar membedakan cinta dengan tuntutan.

Aku tidak mau berharap lagi. Bukan karena trauma. Bukan juga karena takut patah hati lagi. Tapi karena aku sadar, kalau aku mulai berharap, aku akan kembali mengubah semua perhatian dan kebaikan yang kuberikan menjadi transaksi diam-diam. Seakan-akan semua itu kulakukan supaya Mas Bhre membalas rasa yang sama. Itu tidak adil. Tidak adil untuk diriku sendir, juga untuk dia.

Hati manusia itu wilayah yang tidak bisa dirampok. Tidak bisa dipaksa. Tidak bisa ditagih hanya karena kita sudah mencintai mereka dengan sungguh-sungguh. Maka ketika office shutdown Natal dan Tahun Baru diumumkan selama dua minggu penuh, aku justru merasa agak lega.

Felicity mendadak kosong. Grup kantor berubah isinya jadi ucapan “Merry Christmas”, foto keluarga, diskon makanan, dan meme Santa Claus kapitalis dari Mas Bhre. Aku pulang ke rumah lebih sering, membantu Mama bikin nastar, mendengarkan Papa mengeluh harga mentega yang makin tidak masuk akal, lalu videocall dengan Cece yang ribut menunjukkan dekorasi Natal di rumahnya di Australia.

Aku menjalani semuanya dengan tenang. Memang kadang masih memikirkan Mas Bhre, tentu saja. Terutama ketika malam-malam sepi dan aku melihat story WhatsApp-nya yang cuma berisi foto gereja atau kopi dengan caption aneh seperti,

“Teologi Natal dan bubur ayam memiliki satu kesamaan: sama-sama lebih nikmat dalam keadaan hangat.”

Aku membalas:

> “Mas tolong jangan campur aduk Tuhan dan bubur.”

> “Semua jalan menuju bubur,”

Balasnya.

Bego.

Tapi aku tidak lagi bergetar hebat membaca namanya.

Ketika libur selesai, ternyata Mas Bhre belum masuk kantor juga.

Ada business trip. Singapura lalu Kuala Lumpur hampir dua minggu bersama beberapa orang kantor pusat dan tim regional. Maka total hampir satu bulan aku tidak bertemu dengannya.

Aneh sekali rasanya. Rindu, iya. Sangat. Kadang sampai refleks ingin menoleh ke ruangannya ketika mendengar suara langkah yang mirip dengannya. Kadang ingin mengirim sesuatu lucu lalu sadar bahwa sekarang ritme hidup kami memang sudah tidak seperti dulu. Tapi bersamaan dengan itu ada ketenangan baru.

Aku tetap bisa bekerja normal. Tetap bisa tertawa bersama Celine. Tetap bisa makan siang tanpa merasa jantungku akan copot hanya karena mendengar nama “Mas Bhre” disebut orang.

Tidak ada kupu-kupu. Tidak ada rasa mencelos yang menyiksa. Seakan-akan satu bulan tanpa bertemu itu memberi ruang bagiku untuk bernapas kembali sebagai diriku sendiri.

Lihat selengkapnya