Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #33

Siap

Aku tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana cara kerja kebahagiaan. Dulu kupikir bahagia itu sesuatu yang besar, jelas bentuknya, mudah dikenali. Wisuda mungkin. Gaji pertama. Punya apartemen sendiri. Bisa beli barang tanpa lihat label harga terlalu lama. Atau mungkin pernikahan, seperti yang selalu dipercaya orang-orang. Tapi semakin bertambah umurku, semakin aku sadar bahwa kebahagiaan justru sering datang dalam bentuk yang aneh, kecil, bahkan nyaris memalukan untuk diakui.

Misalnya malam itu. Aku duduk di dalam mobil Mas Bhre, mencium aroma kabin yang entah kenapa selalu membuatku merasa tenang, campuran kopi, parfum yang tipis, kertas-kertas kerja, dan sesuatu yang hangat yang tidak bisa kujelaskan. Dashboard-nya rapi, sederhana, seperti biasa tanpa ada pernak-pernik apa-apa. Ada kabel charger melilit seperti akar tanaman, bon parkir menumpuk di cup holder, dan playlist lagu lawas yang volumenya kecil sekali. Dari speaker terdengar lagu lama entah dari tahun berapa, suara penyanyinya serak lembut seperti radio tua.

Di sampingku ada laki-laki yang selama bertahun-tahun hidup di dalam kepalaku sebagai sosok yang tidak pernah benar-benar bisa kugapai.

“Warung ini aneh, ya,” kataku sambil melihat papan besar bertuliskan *Warung Guling Pak Made Cabang 5 Nasional*. “Bali banget, tapi rasanya kuat Sumatranya.”

Mas Bhre ketawa kecil sambil parkir mundur. “Makanya saya suka. Identitasnya krisis. Kayak warga Batam.”

Aku tertawa. “Maksudnya?”

“Kita ini kan campur aduk. Orang Batak makan bak kut teh. Orang Jawa makan andaliman. Orang Tionghoa ngomong Melayu. Orang Manado nikah sama orang Jawa. Semua dicampur di kota ini, terus entah kenapa malah cocok.”

Aku memandang keluar jendela. Lampu Nagoya New Town memantul di kaca mobil. Orang-orang lalu lalang. Ada bapak-bapak pakai singlet beli rokok, ada pasangan muda yang sibuk foto makanan, ada anak kecil nangis minta balon LED. Di tengah semua keramaian itu, aku justru merasa dunia sedang mengecil hanya menjadi kami berdua.

Begitu duduk, aroma babi guling langsung menyerang. Gurih, pedas, rempahnya tebal. Aku memperhatikan Mas Bhre membaca menu dengan serius sekali, seperti sedang menganalisis laporan klien miliaran rupiah.

“Seperti yang kamu bilang,” katanya tiba-tiba, “babi guling Bali asli biasanya lebih clean rasanya. Rempahnya wangi. Nah ini...” Ia menunjuk menu. “Ini udah jelas pengaruh Sumatra.”

“Karena andaliman?”

“Nah. Sama pedasnya juga beda. Orang Batam itu lidahnya kuat-kuat. Kebanyakan perantau. Jadi makanan kalau nggak nampol dianggap kurang niat.”

“Mas tuh bisa ya ngomongin makanan kayak lagi seminar budaya.”

“Ya memang makanan itu budaya.”

“Mas banget.”

“Terima kasih.”

Aku ketawa sambil menunduk. Aku sadar aku merindukan momen-momen seperti ini lebih dari apa pun. Kami makan sambil ngobrol macam-macam. Tentang babi guling di Bali yang menurut Mas Bhre terlalu “tertib”, tentang saksang Batak yang menurutku aromanya menakutkan, tentang kenapa orang Jepang bisa bikin makanan sederhana terasa mahal secara emosional.

“Karena presentasi,” kataku. “Komunikasi visual.”

“Nah itu anak komunikasi saya balik lagi.”

“Lah iya.”

“Makanya saya bilang kamu cocok di Felicity.”

Kalimat itu sederhana. Tapi aku tetap merasakan sesuatu jatuh pelan di dadaku.

Setelah makan, kami sempat diam cukup lama dalam perjalanan di mobil. Bukan diam canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama sedang mencari jalan masuk ke pembicaraan berikutnya. Lampu jalan memantul di wajah Mas Bhre. Setelah sekian lama, aku melihat wajahnya tidak lelah. Bukan berarti ia bahagia sepenuhnya. Tidak. Dukanya masih ada. Selalu ada. Tapi seperti luka yang akhirnya berhenti berdarah.

“Vi,” katanya pelan.

“Apa Mas?”

Lihat selengkapnya