Aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya semuanya berubah bentuk. Kapan evolusi rasa itu mencapai perubahannya. Selama ini aku pikir aku sudah berhasil menenangkan diriku sendiri. Sudah berhasil mengubah rasa cinta itu menjadi sesuatu yang lebih jinak, lebih dewasa, lebih tenang. Aku masih sayang sama Mas Bhre, iya, sayang banget malah, tapi aku tidak lagi hidup dari balasan chat, dari kupu-kupu di perut, dari harapan aneh bahwa suatu hari dia akan melihatku dengan cara yang sama. Aku sudah berhasil menerima bentuk hubungan kami apa adanya. Aku sudah bahagia menjadi orang penting dalam hidupnya tanpa perlu memiliki apa pun. Malah justru karena itu, ketika semuanya akhirnya tenang, ketika aku merasa sudah tidak lagi tenggelam, dunia malah memberiku sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah benar-benar berani kubayangkan.
Mas Bhre bilang dia sayang sama aku.
***
Tahun keempatku di Felicity berjalan seperti sesuatu yang sudah menemukan ritmenya sendiri. Aku genap tiga puluh dua tahun. Kontrakku diperpanjang lagi, kali ini tiga tahun langsung. Kantor makin besar, makin sibuk, bahkan gedung sebelah akhirnya disewa penuh untuk divisi percetakan dan editorial baru. Anak-anak baru berdatangan tiap beberapa bulan. Beberapa malah lebih muda jauh dariku sampai membuatku sadar kalau aku sekarang sudah masuk kategori “senior”.
Entah sebenarnya sejak kapan aku dan Mas Bhre dianggap seperti pasangan partner kerja legendaris di kantor.
“Kalau briefing sama Pak Bhre terus nggak ngerti, tinggal tanya Kak Vivi,” ujar staf junior.
“Atau tunggu mereka ngobrol bahasa alien dulu.”
“Kalau mereka udah ketawa sendiri, fix ada referensi bapak-bapak atau teori aneh.”
Aku biasanya cuma ngakak mendengar itu. Mas Bhre juga. Kadang malah makin menjadi-jadi.
“Vi, mereka nggak ngerti kalau komunikasi tingkat tinggi memang menyakitkan.”
“Tingkat tinggi dari mana. Mas cuma tua.”
“Lah, usia kan memang adalah bentuk kedewasaan.”
“Enggak. Usia artinya keriput.”
Mendengar percakapan seperti ini, orang-orang kantor akan geleng-geleng kepala melihat kami.
Semua terasa ringan. Bahkan tradisi tukar kado ulang tahun kami selama dua tahun terakhir sudah berubah jadi perang kreativitas kecil-kecilan. Tahun lalu Mas Bhre memberiku kalender meja aneh berisi kutipan motivasi yang semuanya dia edit sendiri jadi ngawur.
“Hidup adalah perjuangan.” dicoret jadi: “Hidup adalah perjuangan melawan ngantuk habis makan siang.”
Aku sampai ngakak sendirian di apartemen.
Sebaliknya aku pernah memberinya satu set notes kecil berbentuk bungkus mi instan dengan tulisan-tulisan seperti: “Rapat ini seharusnya bisa diganti email,” atau “Mari pura-pura profesional bersama.”
Kami sudah terlalu nyaman. Terlalu dekat. Sialnya, justru karena semuanya terasa aman, aku tidak sadar bahwa mungkin hati manusia memang tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan.
***
Hari itu sebenarnya biasa saja. Bahkan terlalu biasa.
Hujan habis turun di Batam sejak panas berminggu-minggu. Jalanan masih basah. Mas Bhre mengajakku makan malam sepulang kantor karena katanya ada hal yang mau dibicarakan. Tidak romantis sama sekali. Tidak ada tempat fancy. Tidak ada suasana film.
Kami makan di sebuah kedai Chinese food tua dekat daerah Batam Centre yang lampunya kekuningan dan meja bundarnya sudah agak lengket kena minyak bertahun-tahun.
Mas Bhre pesan capcay. Aku pesan nasi goreng seafood.
“Kayaknya kita makin tua ya, Vi.”
“Hah?”
“Kalau orang pacaran makan sushi. Kita capcay.”
“Mas jangan ajak aku ke dalam krisis usia Mas ya.”
Dia ketawa kecil. Aku sendiri tidak tahu kenapa, malam itu wajahnya terlihat berbeda. Bukan sedih. Bukan lelah. Tapi seperti seseorang yang sudah memikirkan sesuatu sangat lama.
Setelah beberapa menit ngobrol soal kantor, soal anak baru yang salah print seribu lembar proposal, soal mesin binding yang rusak lagi, mendadak Mas Bhre diam.
Benar-benar diam. Tangannya masih memegang gelas teh hangat. Di dalam hati aku agak takut dan khawatir bilamana beban lama di hatinya tentang luka masa lalu mendadak kembali.
“Vi.”