Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #35

Rooftop

Selama beberapa minggu setelah malam itu, aku dan Mas Bhre berubah menjadi dua orang yang sama-sama berpura-pura baik-baik saja. Jelas ini paling menyakitkan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pula tangisan besar. Bukan drama, malah karena semuanya terlihat normal.

Mas Bhre masih datang pagi dengan kemeja rapi dan rambut yang setengah gagal disisir. Ia menyapa satpam bawah dan masih bercanda soal mesin kopi pantry yang “rasanya makin kapitalis”. Pukul sepuluh pagi, ia memimpin rapat masih dengan suara tenang yang membuat semua orang otomatis diam dan mendengarkan.

Aku juga masih bekerja seperti biasa. Membuat revisi proposal, masih memarahi anak magang yang salah margin, dan tertawa kalau Celine mulai menggosip soal klien aneh dari Jakarta.

Namun, di antara semua itu, ada sesuatu yang patah. Kami berdua tahu itu.

Aku mulai membatasi semua hal secara sadar. Aku tidak lagi iseng masuk ke ruangannya hanya untuk menunjukkan meme aneh. Tidak lagi spontan mengomentari story WhatsApp-nya. Tidak lagi menyodorkan kopi sambil bilang, “Bapak kalau nggak makan nanti masuk angin terus mati.”

Kalau ada yang perlu dibahas, aku mengetuk pintunya secara formal.

“Mas, ini revisi dari kantor pusat.”

“Oh, oke. Taruh situ aja ya, Vi.”

Selesai.

Kadang hanya itu. Mas Bhre sendiri tidak pernah memaksa memperbaiki keadaan. Dadaku terasa sesak karena aku tahu dia sedang menghormatiku.

 

***

 

Orang-orang kantor mulai sadar ada sesuatu yang berubah, meskipun tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan apa.

“Perasaan sekarang kalian jarang debat ya.”

“Iya, sepi banget.”

“Biasanya kalau Mas Bhre sama Kak Vivi udah ketawa sendiri, berarti kantor masih aman.”

Aku cuma tertawa kecil setiap mendengarnya. Mas Bhre juga. Tapi tawanya sekarang terasa lebih pendek. Ia terasa lebih hati-hati.

Suatu sore, aku sedang membereskan transkrip wawancara ketika kudengar beberapa orang dari ruang meeting mendadak ribut.

“Hah? Serius, Mas?”

“Lho, pindah?”

Aku spontan menoleh. Pintu ruang meeting terbuka, dan Mas Bhre keluar sambil membawa laptopnya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi semua orang langsung mengerubunginya.

“Mas, beneran?”

“Jakarta?”

“Kok mendadak banget?”

Aku membeku di kursiku.

Mas Bhre akhirnya melihat ke arahku sekilas. Tapi hanya sekilas, lalu kembali menjawab yang lain. “Enggak mendadak juga sebenarnya. Udah ditawarin beberapa bulan lalu.”

“Terus Mas ambil?”

“Iya.”

“Lama?”

“Belum tahu.”

Suasana kantor langsung berubah aneh sore itu. Bahkan anak-anak baru yang belum terlalu dekat dengannya ikut terlihat kehilangan arah. Rasanya seperti mendengar salah satu tembok utama kantor akan dibobol. Kalau mau jujur, memang begitu kenyataannya. Mas Bhre bukan cuma senior di kantor ini. Dia semacam pusat gravitasi kecil yang selama ini membuat semua orang nyaman.

Kalau ada klien marah, panggil Pak Bhre. Kalau presentasi gagal, Pak Bhre yang maju. Kalau suasana kantor lagi tegang, Pak Bhre yang melucu. Kalau ada pegawai baru nangis di toilet karena overwhelmed, biasanya habis itu keluar dari ruangan Bhre sambil ketawa-ketawa lagi.

Lihat selengkapnya