Hari-hari tanpa Mas Bhre ternyata jauh lebih sunyi dibanding yang kubayangkan. Kantor tidak mendadak kacau. Justru sebaliknya. Felicity tetap berjalan seperti biasa, bahkan terlalu biasa. Anak-anak baru tetap ribut soal revisi desain. Divisi riset tetap tenggelam dalam tabel dan deadline. Pantry tetap bau kopi sachet dan mie instan setiap sore. Klien tetap menyebalkan. Printer tetap rusak di saat paling tidak tepat. Dunia tetap bergerak sehingga membuat kehilangan terasa makin aneh. Ternyata hidup memang tidak berhenti hanya karena seseorang pergi dari orbit harian kita.
Aku masih datang pagi. Masih duduk di kubikel yang sama. Masih melihat ruangan Mas Bhre di ujung lorong itu, hanya sekarang pintunya sering tertutup dan lampunya tidak selalu menyala. Kadang dipakai meeting online dengan kantor Jakarta. Kadang kosong total.
Tapi kebiasaan-kebiasaan kecil lah yang paling menyiksa.
Aku masih refleks ingin mengirim meme lucu atau aneh setiap menemukan sesuatu lucu di internet, spontan menoleh ke arah ruangannya ketika mendengar ada pembahasan teori komunikasi yang seru di rapat, bahkan kadang ketika mendengar langkah kaki tertentu di lorong, jantungku masih sempat melonjak sebelum sadar bahwa itu bukan dia. Sialnya setiap sadar itu bukan dia, ada rasa kosong kecil yang jatuh pelan di dada.
***
Seminggu sekali aku tetap pulang ke rumah Papa Mama. Aturan itu tidak pernah berubah sejak aku tinggal sendiri di apartemen.
Malam itu rumah terasa hangat seperti biasa. Bau sup bakut rebus dari dapur bercampur aroma minyak kayu putih yang selalu dipakai papa habis mandi. Televisi menyala pelan menampilkan berita yang tidak ditonton siapa-siapa.
Aku duduk di meja makan sambil membantu Mama memotong buah.
“Kurus kau,” kata mama tiba-tiba.
Aku mengernyit “Perasaan biasa aja.”
“Biasa dari Hongkong.”
Papa mendengus kecil sambil membaca berita dari tablet.
“Kerja terus. Muka pun kayak orang kurang tidur.”
Aku tertawa kecil. Biasanya aku bisa santai menghadapi omelan beginian. Tapi malam itu entah kenapa rasanya capek sekali.
***
Vania video call malam itu dari apartemennya di Singapore. Aku harus selalu mengakui bahwa ceceku itu tetap luar biasa cantik bahkan dengan rambut dicepol asal dan skincare setengah luntur.
“Loh, mukamu kenapa kayak habis gagal panen?”
“Aku capek.”
“Kau tuh tiap video call jawabannya capek terus. Coba sekali-sekali bilang kaya.”
Aku tertawa kecil.
Suaminya lewat di latar belakang, kemudian melambaikan tangan sopan dari belakang.
“Hai, Vi.”
“Hai, Koko.”
“Sayang, Vivi jangan dibully terus,” katanya kepada Vania.
“Lah dia yang mukanya kayak penderitaan nasional.”
Aku tertawa agak lebih lepas mendengar respon Cece Vania.
Setelah puas mengejek-ejekku sampai suaminya kemudian pergi, seperti biasa, Cece punya radar khusus sehingga ia mendadak berubah serius.
“Dia pindah, ya?” katanya tiba-tiba.
Aku diam sebentar.
“Hm,” jawabanku berupa gumaman tidak jelas.
“Masih sakit?” tanyanya lagi.
“Enggak... cuma...” aku menghela napas panjang. “Kayak ada bagian hidup yang ikut pindah aja.”
Vania menatapku cukup lama dari layar. “Kau cinta banget ya sama dia?” katanya lembut.
Kenalkan Vania Tanjaya, saudara-saudara. Seberapa menjengkelkannya sosok itu, sisi satunya ini tetap selalu membuatku merasa bahwa aku dicinta dan diperhatikan dengan cara yang lucu, tetapi tetap ada.
Aku langsung menunduk.
Kalau dulu pertanyaan seperti itu pasti akan kubantah mati-matian. Aku akan bilang tidak mungkin, bilang cuma kagum, bilang aku lebay, bilang itu cuma fase. Tetapi sekarang aku terlalu lelah untuk menyangkal sesuatu yang bahkan sudah terasa seperti bagian tubuhku sendiri.
“Iya.” Jawabanku kecil sekali.
Vania menghela napas pelan. Wajahnya langsung melunak.