Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #37

Tinggal

Aku pernah berpikir bahwa penderitaan paling besar adalah mencintai seseorang yang tidak mungkin kumiliki. Tapi ternyata yang lebih menyakitkan adalah ketika kemungkinan itu akhirnya muncul di hadapanku, tepat saat aku sudah menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar melepaskannya. Jadinya, sekarang aku tidak tahu harus melakukan apa dengan kenyataan itu.

 

***

 

Hari-hariku berjalan seperti orang normal. Aku bangun pagi, mandi sambil mendengarkan playlist lawas yang sama, berangkat kerja dengan tas penuh laptop, charger, dan hidup yang tidak jelas arahnya. Aku ketawa di kantor seperti biasa, mengerjakan revisi, termasuk masih mengomel soal klien yang mendadak mengganti brief jam sebelas malam.

Aku masih hidup.

Cuma memang ada sesuatu yang terus berdetak pelan di dalam dada, seperti luka yang tidak pernah benar-benar berhenti mengeluarkan darah. Kadang aku sedang mengetik laporan, lalu mendadak ingat suara Mas Bhre tertawa. Kadang sedang makan siang, lalu tiba-tiba teringat cara dia menjelaskan sejarah bubur dengan serius seperti dosen filsafat makanan. Kadang melihat meme bapak-bapak absurd di internet, lalu refleks ingin mengirimkannya. Namun, setiap kali sadar aku tidak lagi punya hak untuk melakukan itu semudah dulu, dadaku terasa mencelos kecil.

Ironisnya, dulu aku menangis karena dia tidak membalas rasaku. Sekarang aku menangis karena dia membalasnya.

Hidup memang sesinting ini.

 

***

 

Aku sering memarahi diriku sendiri di kepala. Vi, apa sih maumu sebenarnya? Dulu kau bilang cukup begini saja sudah bahagia. Lalu ketika dia benar-benar bilang sayang, kau malah lari.

Memangnya kau mau dia bagaimana? Apa dia tetap diam dan tetap pura-pura tidak tahu? Apa kamu mau dia tetap menjadi laki-laki hangat yang terus berdiri di dekatmu tanpa pernah mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan? Bukannya itu malah lebih kejam?

Aku tahu dan sadar atas semua itu. Makanya aku makin tersiksa. Tidak ada pihak yang benar-benar salah di sini. Mas Bhre tidak salah mencintai lagi. Aku juga tidak salah jatuh cinta. Tapi rasa bersalah itu tetap ada. Lengket. Tidak mau hilang.

Kadang aku membenci diriku sendiri karena sempat memiliki narasi-narasi gila itu dulu.

Narasi tentang andai dia duda, andai aku bertemu dia lebih cepat, andai dia bebas. Andai...

Sekarang ketika kenyataan itu benar-benar datang dalam bentuk paling menyakitkan, aku justru merasa jijik pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin ada bagian kecil di dalam diriku yang pernah berharap pada kemungkinan seperti ini?

Padahal Novi benar-benar ada. Pernah hidup. Pernah dicintai Mas Bhre sedalam itu.

Aku tidak pernah benar-benar mengenalnya dekat, tapi aku tahu perempuan itu nyata. Bukan karakter antagonis di kepalaku yang menghalangi cintaku. Dia manusia. Dia sakit. Dia menderita. Dia dicintai.

Dan aku?

Aku berdiri di sini seperti pencuri yang bahkan tidak jadi mencuri apa-apa, tapi tetap merasa tangannya kotor.

 

***

 

Kadang aku mencoba logis. Mas Bhre sudah di Jakarta sekarang. Maka, selesai.

Bukankah ini jawaban dari semua doa dan penderitaanku dulu?

Bukankah yang kubutuhkan untuk sembuh adalah jarak, waktu, dan kesibukan?

Tapi sayangnya memang ternyata hati tidak bekerja secerdas teori komunikasi atau filsafat modern yang dulu sering kubanggakan. Semakin jauh dia, semakin terasa bentuk kosong yang ia tinggalkan. Yang memperparah adalah sekarang aku tahu bahwa aku dirindukan balik. Rasa hancurnya berkali lipat.

 

***

 

Suatu malam aku membuka kembali file versi digital scrapbook yang dulu kubuat untuk ulang tahun Mas Bhre. Aku membaca ulang semua tulisan itu pelan-pelan. Aku membaca semuanya sambil tertawa kecil, lalu menangis lagi.

Selama ini aku memang ternyata mencintainya sedalam itu. Makanya aku tidak bisa menerima begitu saja ketika kenyataan akhirnya membuka jalan. Cinta yang terlalu lama hidup sendirian kadang berubah bentuk menjadi sesuatu yang takut disentuh kenyataan.

 

***

 

Dua minggu setelah kepindahannya ke Jakarta, kami hampir tidak pernah benar-benar mengobrol panjang. kalau ada chat pun seperlunya, sopan dan hati-hati. Kami seperti dua orang yang sama-sama tahu ada sesuatu besar di antara mereka, tapi tidak berani menyentuhnya terlalu keras.

Lihat selengkapnya