BHRE
Jakarta selalu terasa terlalu cepat buatku.
Bukan cuma lalu lintasnya. Bukan cuma suara MRT, bunyi klakson, lift gedung, atau langkah kaki manusia yang seperti tidak pernah selesai bergerak. Ada sesuatu dari kota ini yang membuat orang tidak diberi kesempatan untuk benar-benar diam. Bahkan ketika malam turun dan lampu apartemen dimatikan separuh, Jakarta tetap berdetak seperti mesin raksasa yang menolak tidur.
Malam itu aku duduk sendirian di meja makan apartemen, mengenakan kaus hitam lusuh dan celana training abu-abu, sambil menatap semangkuk bubur ayam delivery yang mulai dingin.
Aku belum menyentuhnya lagi sejak dua puluh menit lalu.
Di samping mangkuk itu ada sesuatu yang jauh lebih menyita perhatian, scrapbook tebal bersampul coklat tua yang sudut-sudutnya mulai sedikit melengkung karena terlalu sering kubuka.
Hadiah ulang tahun dari Vivi.
Tanganku mengusap pelan permukaan sampulnya.
Sudah hampir dua tahun sejak hadiah itu diberikan, tetapi sampai sekarang aku masih belum benar-benar mengerti bagaimana mungkin seseorang bisa memperhatikanku sedetail itu.
Aku membuka salah satu halaman tengah. Ada foto kami berdua di Tanjung Pinang.
Vivi memakai kaus oversized putih dan crocs jingga terang yang dulu membuatku tertawa hampir lima menit karena warna sepatu itu benar-benar norak. Di sebelahnya aku sendiri terlihat terlalu santai untuk ukuran kepala divisi, polo shirt gelap, celana kain, rambut sedikit berantakan karena angin laut.
Di bawah foto itu ada tulisan tangan Vivi:
“Mas Bhre terlihat seperti orang yang selalu tahu jalan pulang. Bahkan ketika dirinya sendiri sebenarnya sedang tersesat.”
Aku mengembuskan napas pelan.
Kalimat itu menghantuiku sejak pertama kali membaca scrapbook ini.
Aku sendiri tidak tahu kapan tepatnya perempuan itu mulai melihatku sedalam ini. Atau mungkin, lebih jujur lagi, aku tidak tahu kapan terakhir kali ada orang yang benar-benar melihatku. Bukan dosen-dosenku dulu. Bukan mantan murid. Bukan rekan kerja. Bukan keluarga besar yang selalu menganggapku kuat karena aku anak pertama laki-laki. Bahkan bukan Novi.
Novi mencintaiku, iya. Sangat. Tapi istriku itu mencintai dengan cara yang sunyi sekali. Seakan sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk bertahan dari ketakutan-ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.
Sedangkan Vivi?
Vivi memperhatikanku seperti seseorang membaca catatan kaki di buku tua. Detail-detail kecil yang bahkan aku sendiri lupa pernah ada.
Aku menutup scrapbook itu pelan lalu bersandar ke kursi. Apartemen terasa terlalu sunyi. Aku sebenarnya tidak membenci kesunyian. Selama bertahun-tahun pernikahanku, aku justru terbiasa hidup di dalam rumah yang tenang. Novi tidak suka suara keras. Tidak suka tamu. Tidak suka keramaian. Bahkan televisi lebih sering mati.
Tapi setelah Novi pergi, kesunyian berubah bentuk. Bukan lagi damai yang hadir, melainkan ruang kosong yang kadang terlalu besar untuk kutanggung sendirian.
Ironisnya, di tengah semua itu, di tengah perjuanganku menghadapi duka dan kekosongan jiwa, yang paling sering muncul di kepalaku justru suara Vivi.
“Mas, orang tuh kalau udah tua jangan sok edgy.”