Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #39

Novi

Aku mencintai Novi dengan cara yang mungkin sulit dijelaskan kepada banyak orang. Bahkan sekarang pun, setelah semuanya selesai, aku masih tidak tahu apakah aku pernah benar-benar memahami perempuan itu sepenuhnya. Yang kutahu cuma satu, aku tidak pernah meragukan cintanya kepadaku.

Novi bukan perempuan hangat seperti kebanyakan orang membayangkan sosok pasangan ideal. Ia tidak terlalu suka keramaian, tidak pandai basa-basi, dan sering terlihat dingin bagi orang yang baru mengenalnya. Di acara keluarga, ia bisa duduk diam berjam-jam sambil tersenyum kecil tanpa benar-benar ikut percakapan. Kalau ada tamu datang mendadak, ia langsung tegang. Kalau terlalu banyak orang bicara bersamaan, wajahnya mulai pucat.

Sebagai hasilnya banyak orang mengira dia sombong, atau dingin paling tidak. Padahal tidak. Ia takut. Dan semakin lama hidup bersamanya, aku semakin sadar bahwa ketakutan itu sudah tinggal terlalu dalam di tubuhnya.

Aku masih ingat waktu pertama kali mendekatinya dulu. Capeknya bukan main. Aku bahkan sempat berpikir dia membenciku. Pesanku kadang dibalas dua hari kemudian. Diajak keluar bisa batal mendadak. Ketika sudah bertemu pun, ia lebih banyak mendengarkan dibanding bicara.

Tapi justru karena itu aku penasaran. Ada sesuatu dari Novi yang membuatku ingin melindunginya terus-menerus. Mungkin karena aku tahu ia sedang berusaha keras hidup di dunia yang terlalu berisik untuk dirinya.

Waktu akhirnya kami menikah, aku sungguh bahagia. Sesederhana itu. Aku tidak pernah menuntut kehidupan besar. Aku cuma ingin pulang ke seseorang yang membuatku tenang. Dan Novi memberiku itu. Rumah kami sunyi, tapi damai. Kadang malam-malam kami makan bubur sambil menonton dokumenter random tanpa banyak bicara. Kadang ia tertidur di sofa sementara aku masih membaca atau bekerja. Kadang kami cuma duduk di balkon apartemen tanpa percakapan apa pun.

Dan anehnya, aku merasa cukup.

Sampai pembicaraan soal anak mulai datang dari segala arah.

Awalnya hal biasa saja. Pertanyaan keluarga. Candaan teman. Basa-basi orang gereja. Aku masih bisa tertawa waktu itu.

“Nanti kalau anaknya banyak jangan lupa saya jadi wali baptis.”

“Iya, doain dulu aja.”

Tapi tahun demi tahun lewat, dan candaan mulai berubah bentuk. Menjadi pertanyaan. Lalu asumsi. Lalu penghakiman kecil-kecil yang melelahkan.

Aku tahu Novi tersiksa. Ia semakin sering diam setelah pulang dari acara keluarga. Semakin mudah lelah. Semakin sering memandangi dirinya sendiri terlalu lama di cermin.

Dan aku mulai sadar ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.

Awalnya ia tidak mau bicara. Kalau kutanya kenapa tidak mau program anak, jawabannya selalu muter. Belum siap lah. Takut lah. Masih mau fokus hidup berdua dulu lah. Aku percaya saja.

Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian, di satu malam yang sangat sunyi, Novi menangis sambil bilang bahwa tubuhnya memang tidak benar-benar sehat sejak lama.

Aku masih ingat rasanya waktu itu. Bukan marah. Bukan kecewa. Lebih seperti... dunia mendadak bergeser sedikit. Ia bercerita tentang sakit yang selama ini disembunyikan, tentang ketakutannya sendiri terhadap kehamilan, tentang rasa bersalah karena merasa menjadi istri yang gagal.

Dan yang paling menghancurkanku adalah ketika ia bilang, “Aku takut Mas nyesel nikah sama aku.”

Sampai sekarang aku masih ingat bagaimana suaranya gemetar waktu mengatakan itu. Aku memeluknya lama sekali malam itu. Karena jujur saja, yang kupikirkan bukan soal anak. Yang kupikirkan justru selama ini dia menanggung semua ketakutan ini sendirian. Dan setelah itu hidup kami perlahan berubah.

Lihat selengkapnya