Aku baru sadar ternyata manusia bisa merasa bersalah hanya karena masih mampu tertawa.
Itu salah satu hal pertama yang menghantuiku setelah Novi pergi.
Awalnya semua terasa seperti kabut panjang. Rumah terlalu sunyi. Gelas Novi masih ada di tempat biasa. Cardigan tipisnya masih tergantung di kursi kerja. Obat-obatan masih tersusun rapi di meja samping tempat tidur seperti hidup belum benar-benar berubah.
Dan di tengah semua itu, orang-orang terus bergerak. Kantor tetap berjalan. Deadline tetap datang. Keluarga tetap ribut.
Dunia tidak berhenti hanya karena satu manusia hilang.
Aku tahu secara logika itu normal. Tapi secara emosi, rasanya brutal sekali.
Maka aku mulai menjalani hidup seperti mesin. Bangun. Kerja. Menjawab pesan. Menenangkan keluarga Novi. Menghadapi ibuku yang kepo setengah mati. Mendengarkan komentar saudara yang kadang tidak sadar bahwa duka bisa berubah jadi pisau kalau disentuh sembarangan.
Aku bertahan karena memang harus bertahan.
Dan justru di masa itulah Vivi perlahan menjadi semakin penting bagiku.
Waktu Novi masih hidup, aku tidak pernah benar-benar mengizinkan diriku berpikir terlalu jauh soal Vivi.
Aku memang nyaman dengannya. Sangat nyaman malah. Aku mencarinya di kantor, senang bicara dengannya, lega kalau dia ada di tim yang sama. Tidak ada kemungkinan perasaan yang berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam sehingga perlu kutekan semuanya habis-habisan ketika bersama Vivi.
Perempuan itu adalah “orang penting”, tapi tidak pernah ada pertanyaan krusial tentang kenapa ia penting. Aku menikmati keberadaannya, tapi tidak pernah memeriksa lebih jauh apa arti semua itu.
Sampai Novi meninggal.
Awalnya bukan cinta. Aku bahkan yakin sekali itu bukan cinta. Aku cuma... mencari Vivi terus-menerus.
Kalau ada kejadian lucu di kantor, refleks pertamaku ingin cerita ke dia. Kalau makan sesuatu yang aneh, aku ingin tahu komentarnya. Kalau hari terasa berat, aku lega begitu mendengar suaranya. Kalau rapat panjang membuat kepalaku penuh, aku otomatis mencari meja Vivi setelah semuanya selesai.
Dan yang paling mengerikan, atau melegakan, di tengah duka sebesar itu, Vivi masih bisa membuatku merasa hidup.
Bukan bahagia besar awalnya, bukan euforia. Lebih seperti... ada udara yang masuk lagi ke paru-paruku.
Dan itu membuatku takut setengah mati.
Karena setiap kali aku pulang lalu duduk sendirian di rumah yang dulu kutinggali bersama Novi, rasa bersalah itu datang lagi.
Apa aku mulai meninggalkan istriku? Apa semua perasaanku selama ini palsu? Apa aku laki-laki seburuk itu sampai bisa mulai merasa nyaman lagi secepat ini?
Aku bahkan sempat marah pada diriku sendiri waktu sadar aku menunggu chat dari Vivi.
Benar-benar marah.
Novi memang telah wafat setahun lamanya, tetapi apakah ada waktu khusus yang diwajarkan untuk melupakan seseorang yang pernah dicintai begitu besar?
Sedangkan aku di sini, diam-diam merasa lebih tenang setelah membaca pesan absurd tentang teori konspirasi Indomaret dan Alfamart dari seorang perempuan bernama Vivian Tanjaya.
Kadang aku sengaja menjauh lagi setelah itu. Mendadak formal. Mengurangi obrolan. Menahan diri supaya tidak terlalu sering mendatangi mejanya.
Tapi bedanya sekarang itu tidak terjadi secara alamiah, melainkan aku tahu persis kenapa aku melakukan itu.
Aku takut. Takut kalau ternyata yang tumbuh ini benar-benar cinta.
Karena kalau memang cinta, maka aku harus menghadapi kenyataan bahwa hatiku bergerak lagi setelah Novi tiada. Dan itu terasa seperti pengkhianatan.
Padahal lucunya, kalau dipikir dengan kepala dingin, justru Vivi adalah salah satu alasan terbesar aku bisa bertahan melewati masa-masa itu. Dia tidak pernah memaksaku melupakan Novi. Tidak pernah mencoba menggantikan posisi siapa pun. Tidak pernah meminta apa-apa dariku.
Sekali lagi, dia cuma ada.