NOVI
Aku dulu berpikir cinta itu harus datang seperti orang-orang bilang. Harus meledak, harus meyakinkan, harus membuat seseorang berani mengejar dunia. Tapi hidupku tidak pernah bekerja seperti itu. Ketakutan selalu datang lebih dulu dibanding kebahagiaan. Bahkan ketika kecil, aku sudah takut pada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Takut mengecewakan orang. Takut salah bicara. Takut tidak cukup baik. Takut membuat orang lelah karena keberadaanku.
Lalu Bhre datang ke hidupku seperti seseorang yang tidak mengerti konsep takut. Bukan karena dia nekat. Justru karena dia tenang, laksana seorang matador yang menghadapi seekor banteng jantan. Dia tidak hanya melawan sang banteng, melainkan juga menari-nari serta memamerkan kemampuannya menundukkan binatang yang sedang murka itu.
Aku masih ingat pertama kali dia menyatakan perasaannya kepadaku dulu. Aku bahkan tidak mengerti kenapa laki-laki seperti dia bisa menyukai perempuan seperti aku. Bhre terlalu hangat untuk seseorang yang hidupnya penuh ketakutan sepertiku. Ia mudah berbicara dengan siapa saja. Disukai banyak orang. Dicari murid-muridnya. Dicintai keluarganya. Bahkan caranya tertawa pun membuat orang merasa dunia tidak seburuk itu.
Sedangkan aku?
Aku perempuan yang bahkan sering takut keluar kamar ketika sedang terlalu cemas.
Aku menolaknya berkali-kali. Bukan karena tidak suka. Justru karena terlalu mudah jatuh cinta kepadanya. Itu juga menakutkan, serius. Aku tahu, kalau aku membiarkan diriku hidup bersama Bhre, maka laki-laki itu akan menghabiskan hidupnya untuk terus menjagaku.
Ketika kemudian aku sungguh ditundukkan oleh sang matador, ternyata aku benar. Setelah menikah, aku mulai mengerti bahwa Bhre memang manusia seperti itu. Ia tidak setengah-setengah ketika mencintai seseorang. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak kusadari sendiri. Ia hafal makanan yang membuatku nyaman ketika panik. Ia tahu kapan aku mulai terlalu diam. Ia tahu kapan aku sedang memaksakan diri terlihat baik-baik saja.
Ironisnya, kadang aku membencinya karena terlalu peka.
“Mas nggak capek?”
Pertanyaan itu pernah kulontarkan malam-malam, ketika aku sedang menangis tanpa alasan jelas dan dia cuma duduk di sampingku sambil memegang tanganku.