Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #42

Kosong

Sudah hampir tiga minggu sejak Mas Bhre pindah ke Jakarta, dan anehnya, dunia tidak runtuh. Matahari tetap terbit dari arah yang sama, grup kantor tetap berisik setiap pagi, printer lantai dua tetap ngadat setiap hari Senin, dan Celine tetap menghilang kalau sudah jam makan siang karena entah bagaimana perempuan itu selalu punya “urusan sebentar” di luar kantor. Semua masih berjalan. Felicity tetap hidup. Aku juga tetap hidup.

Hanya saja, ada ruang kosong yang bentuknya terlalu spesifik.

Aku sadar bahwa selama ini aku mengenali ritme hari dari keberadaan seseorang. Dari suara langkah kaki yang mendekat ke pantry. Dari suara tawa kecil yang tertahan di balik pintu ruangan meeting. Dari notifikasi meme absurd jam sebelas malam yang isinya tulisan truk seperti “Cintamu seperti oli samping, susah dicari kalau hilang.” Dari kebiasaan seseorang berdiri di samping mejaku sambil minum kopi dan berkata, “Vi, coba lihat data ini deh. Kayaknya ada yang aneh.”

Sekarang semua itu hilang. Malah justru karena tidak dramatis, rasanya makin menyiksa.

Aku sempat berpikir kepindahan Mas Bhre akan menjadi jawaban dari semuanya. Bukankah dulu aku sendiri yang merasa harus ada jarak? Bukankah aku yang terus menerus berkata pada diri sendiri bahwa cinta ini terlalu rumit, terlalu terlambat, terlalu salah waktu? Bukankah aku yang memaksa diriku berhenti berharap? Jadi sekarang ketika laki-laki itu benar-benar pergi dari kota ini, harusnya aku lega.

Sebagian diriku memang lega.

Aku bisa tidur tanpa deg-degan menunggu balasan chat. Aku tidak lagi mencuri pandang ke ruangan kerjanya. Aku tidak lagi mendadak senang hanya karena mendengar suaranya dari kejauhan. Aku tidak lagi merasa emosiku dipermainkan oleh perubahan kecil dalam sikapnya. Aku bisa bernapas lebih stabil sekarang.

Tapi rupanya, rasa tenang tidak selalu berarti bahagia.

Hari-hariku jadi terasa terlalu lurus. Terlalu rapi. Tidak ada lagi kupu-kupu di perut, tidak ada lagi dada mencelos, tidak ada lagi rasa bodoh yang membuatku tersenyum sendiri di parkiran kantor hanya karena dapat meme bapak-bapak tentang bubur ayam. Dan ternyata, setelah bertahun-tahun hidup dalam kekacauan emosi itu, kehilangan semuanya membuat dunia terasa pucat dan buram.

Aku sangat benci mengakuinya, mengakui aku terdengar seperti pecandu yang kehilangan candunya.

Malam itu aku pulang ke rumah Papa Mama. Seperti biasa, mama langsung ribut begitu aku masuk rumah.

“Kurus lagi kau.”

“Mama tiap minggu ngomong gitu.”

“Karena tiap minggu kau memang kurus.”

Papa yang sedang duduk di sofa cuma tertawa kecil sambil menurunkan kacamatanya. Rumah selalu terasa sama. Aroma minyak kayu putih. Suara TV yang menyiarkan berita. Tempat buah yang isinya jeruk sunkist dan salak. Kalender besar bergambar Yesus di dekat meja makan. Semua tidak pernah berubah sejak aku SMA pindah ke Batam. Itu sebabnya aku masih suka pulang. Dunia di luar terlalu cepat berubah.

“Kerja gimana?” tanya Papa.

“Normal.”

“Bosmu yang pindah Jakarta itu gimana?”

Aku langsung diam sepersekian detik. Sial. Papa memang begitu. Nada suaranya santai, tapi kadang pertanyaannya tepat menghantam ulu hati.

“Ya… normal,” jawabku sambil pura-pura minum.

Mama langsung nyeletuk, “Yang duda itu?”

“Maaa…”

“Apa salah? Mama cuma tanya.”

Papa malah ketawa makin lebar. “Mamamu ini kalau ngomong memang nggak ada rem, nggak disaring.”

Aku menggeleng sambil tertawa kecil, tapi di dalam dada ada rasa aneh yang bergerak pelan. Bahkan di rumah pun, ternyata bayangan tentang Mas Bhre masih ikut duduk di meja makan bersamaku. Cerita-cerita kecilku tentang Mas Bhre ketika berada di rumah, ternyata tak sadar terekam baik oleh Papa Mama. Apa jangan-jangan aku bercerita sebanyak itu?

Setelah makan malam, aku video call dengan Cece Vania.

Seperti biasa, wajahnya langsung muncul dalam kondisi terlalu cantik untuk ukuran manusia normal. Rambut rapi, skincare glowing, sweater rajut warna krem, dan sepertinya hampir setiap video call, suaminya kelihatan samar-samar di belakang sedang buka laptop.

“Ce, kamu tuh nikah sama manusia apa katalog IKEA sih? Rapi banget.”

“Enak aja. Ini namanya suami proper.”

“Kaku maksudnya.”

“Daripada kamu. Emotional damage berjalan.”

Aku tertawa. Cece juga ikut tertawa, lalu beberapa detik kemudian menatapku lebih lama dari biasanya.

“Kau nangis lagi?”

Aku langsung memonyongkan bibir. “Nggak.”

“Vi. Aku kenal kau dari bayi.”

Aku terdiam. Kadang aku lupa bahwa di balik semua cerewet dan citra sempurna itu, Cece tetap orang yang paling mengenal wajah asliku.

“Aku cuma capek aja.”

“Kangen dia?”

Aku memejamkan mata sebentar. Sekarang pertanyaan itu tidak lagi terasa memalukan.

“Iya,” jawabku pelan.

Cece menghela napas pelan. “Masih sakit?”

“Iya.”

“Tapi masih mau mundur?”

Aku tidak langsung menjawab. Dari layar, kulihat Cece memperbaiki posisi duduknya. Wajahnya kali ini tidak menggodaku. Tidak mengejek. Sangat serius.

“Aku takut, ce.”

“Takut apa kali ini?”

Lihat selengkapnya