Ada masa ketika aku berpikir rasa cinta itu harus selalu terasa besar. Harus dramatis. Harus menyakitkan. Harus membuat hidup jungkir balik.
Mungkin karena selama bertahun-tahun aku memang hidup seperti itu. Menunggu chat. Menebak suasana hati. Mengurai perhatian-perhatian kecil menjadi ribuan kemungkinan. Merasa bahagia berlebihan hanya karena Mas Bhre mengacak rambutku atau mengirim meme bapak-bapak jam dua belas malam.
Aku pernah hidup dari remah-remah sekecil itu. Dan lucunya, aku tidak menyesal. Karena kalau dipikir-pikir lagi, aku memang bahagia waktu itu. Kacau, iya. Melelahkan, iya. Tapi bahagia juga nyata adanya.
Sekarang semuanya berbeda.
Tidak ada lagi permainan tarik-ulur itu. Tidak ada lagi rasa seperti dilempar dari langit ke jurang dalam satu hari. Yang ada justru sesuatu yang lebih tenang. Lebih stabil. Lebih dewasa.
Kekhawatiranku kembali muncul, ketakutan malah. Karena sekarang rasanya nyata.
***
“Vi, kamu tuh sekarang lebih waras ya,” kata Rara suatu siang sambil makan siomay di pantry.
“Terima kasih, ya atas pujiannya. Berarti dulu nggak?”
“Dulu kamu kayak orang kena santet emosional.”
Celine langsung ketawa sampai hampir keselek.
Aku memelototi mereka sambil membuka botol teh dingin.
“Temenan sama kalian tuh bullying berkedok support system.”
“Lah emang.”
“Tapi serius,” lanjut Celine sambil menyender ke kursi. “Sekarang aura kamu beda.”
Aku mengernyit. “Aura apaan?”
“Lebih tenang,” katanya cuek, tapi terlihat sekali ada benarnya.
“Apa mungkin karena udah nggak ada teman bahasa aliennya?” lanjut Rara bercanda.
Aku tidak langsung menjawab, hanya mencebikkan bibirku. Aku tahu mereka benar. Aku memang lebih tenang sekarang. Tetapi bukan karena rasa itu hilang. Justru karena akhirnya aku berhenti melawan kenyataan bahwa aku mencintai seseorang. Kadang menerima lebih menenangkan dibanding menyangkal.
Aku tidak lagi sibuk bertanya apakah aku harus memiliki Mas Bhre atau tidak. Tidak lagi memaksa masa depan menjawab sesuatu yang bahkan belum terjadi. Aku hanya menjalani hari-hari sambil membiarkan rasa itu ada di tempatnya.
Kalau memang nanti harus selesai, ya selesai. Kalau ternyata hidup masih membawa kami saling mendekat, ya biarkan saja. Aku capek mengendalikan sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh diriku sendiri.
***
Malam itu Mas Bhre mengirim foto.
Bukan selfie. Tentu saja bukan. Dia terlalu bapak-bapak untuk itu. Foto warung kecil di pinggir jalan Jakarta yang menjual bubur ayam.
Caption-nya,
> “Vi. Saya menemukan peradaban.”
Aku langsung tertawa sendiri di apartemen.
> “Mas tuh sebenarnya lulusan komunikasi atau arkeologi bubur?”
Beberapa detik kemudian dia membalas,
> “Kamu jangan selalu meremehkan sejarah bubur, dong.”
Lalu masuk voice note hampir tiga menit penuh tentang bubur Tiongkok, bubur Hokkien, bubur Manado, sampai teori bahwa semua manusia sebenarnya butuh bubur ketika emosinya lelah.
Aku tertawa sampai harus menyender ke sofa.
Dan di tengah tawaku itu, mendadak aku sadar. Aku rindu laki-laki ini yang bukan versi idealnya, juga bukan versi romantisnya yang dulu kuimpikan diam-diam.
Aku rindu manusia aneh yang bisa bicara serius tentang bubur selama tiga menit penuh. Aku rindu cara otaknya bekerja. Cara dia mengamati dunia. Cara dia membuat hal kecil terasa lucu.
Dan mungkin itu sebabnya rasa ini tidak habis-habis. Karena aku tidak jatuh cinta pada kemungkinan memilikinya. Aku jatuh cinta pada keberadaannya sendiri.
***
Beberapa hari kemudian, hujan turun deras di Batam. Cuaca ala bercanda yang tidak tentu di Batam, separuh tempat hujan, separuhnya lagi panas meranggas, kalau sudah saatnya serius, hujan bisa berhari-hari tak henti.
Aku baru selesai mandi ketika teleponku berdering.
Mas Bhre.
“Hallo, Mas?”
“Vi.”
“Iya?”
“Kamu di rumah?”
“Iya.”
“Hujan?”
“Deres.”
Di ujung sana terdengar suara napas kecil sebelum dia berkata pelan, “Saya kangen Batam.”
Dadaku langsung menghangat.
“Kangen makanannya?”
“Kangen suasananya.”
“Jakarta terlalu cepat ya?”
“Iya.”
Aku duduk di dekat jendela apartemen sambil memandang lampu-lampu basah di bawah sana.
“Mas.”
“Ya, Vi?”
“Mas sehat?”