Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #44

Mundur

Aku tidak tidur nyenyak setelah video call itu. Bukan karena ada sesuatu yang salah. Justru karena semuanya terasa terlalu benar.

Kalimat sesederhana “Saya juga,” yang artinya “saya juga kangen,” seharusnya tidak bisa menghancurkan pertahanan manusia sedemikian rupa, tetapi malam itu aku terbangun berkali-kali hanya untuk menatap langit-langit apartemen sambil merasa dadaku terlalu penuh. Rasanya seperti ada sesuatu yang selama ini kukurung rapat, lalu mendadak lepas, diberi izin untuk hidup bebas.

Selama ini aku terbiasa mencintai Mas Bhre dari tempat yang aman. Aman karena mustahil. Aman karena ada jarak yang jelas di antara kami. Ia suami orang. Ia laki-laki dewasa dengan kehidupannya sendiri. Aku hanya perempuan bodoh yang terlalu lama memelihara rasa.

Sekarang semuanya berubah dan mungkin. Aku malah ingin mundur.

 

***

 

Pagi harinya aku datang ke kantor dengan kepala berat. Celine langsung melihatku sambil menyipit curiga.

“Kamu kenapa?”

“Ngantuk.”

“Bohong.”

Rara ikut mendongak dari balik monitor. “Kamu tuh sekarang mukanya gampang dibaca banget, Vi.”

Aku meletakkan tas sambil mendesah kecil. “Kenapa emang?”

“Kaya orang bahagia tapi takut.”

Aku langsung diam. Kok bisa sespesifik itu?

Sialan.

Lihat selengkapnya