Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #45

Pulang

BHRE


Aku tidak pernah benar-benar menyukai Jakarta. Bukan karena kotanya buruk. Jakarta terlalu hidup untuk disebut buruk. Terlalu besar, terlalu cepat, terlalu penuh manusia yang seolah berlomba membuktikan dirinya penting.

Mungkin masalahnya justru aku terlalu cocok dengan Batam. Atau lebih tepatnya aku terlalu terbiasa dengan hal-hal kecil yang kutinggalkan di sana.

 

***

 

Sudah hampir tiga minggu aku berada di kantor pusat. Apartemen dinas, meeting, revisi, presentasi, makan malam dengan klien, semuanya berjalan baik. Bahkan terlalu baik. Aku tahu orang-orang kantor pusat menyukaiku. Mereka selalu suka orang yang terlihat tenang dan bisa diandalkan.

Lucunya, semakin dewasa umurku, semakin aku sadar bahwa citra “tenang” sering kali cuma bentuk lain dari kelelahan yang sudah terlalu lama dipelihara.

Pagi itu aku sedang memeriksa laporan ketika Aldi, salah satu manager di Jakarta, tertawa melihat layar laptopku.

“Pak, Batam mulu,” celetuknya.

Aku mendongak.

“Kenapa, Di?”

“Ini wallpaper bapak pantai Batam. Terus playlist lagu Melayu lama. Sekarang buka foto makanan Batam lagi.”

Aku ikut melihat layar.

Oh.

Foto momen ba kut teh sewaktu di Tanjung Pinang bersama Vivi masih ada di folder desktop. Aku cepat-cepat menutupnya.

Aldi malah makin ketawa. “Wah, wah, wah, ada cerita nih kayaknya.”

“Cerita apaan,” ujarku cepat, yang kuharap tidak terdengar defensif.

“Biasanya orang kalau kangen tempat nggak sesering itu.”

Aku tersenyum kecil saja. Andai dia tahu yang kurindukan sebenarnya bukan tempatnya, tetapi orang yang ada di tempat itu.

 

***

 

Lihat selengkapnya