Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #46

Sprint

VIVI



Aku membaca chat terakhir itu berulang-ulang hampir sepuluh kali.

> “Dan entah kenapa rasanya kayak pulang.”

Mas Bhre memang jahat. Bukan jahat karena sengaja memainkan perasaan perempuan. Malah itu yang jadi masalahnya. Ia mengatakan hal-hal seperti itu dengan nada setenang orang membahas cuaca. Tidak dramatis. Tidak menggoda. Tidak mencoba membuatku mabuk. Tetapi justru karena tulus itulah aku hancur. Aku memeluk bantal sambil memejamkan mata kuat-kuat.

“Jangan mulai lagi,” gumamku pelan kepada diri sendiri. Aku tahu persis bagaimana otakku bekerja. Setetes kehangatan bisa berubah jadi seluruh dunia dan kehidupan bagiku.

 

***

 

Besok paginya aku bangun terlalu cepat adahal kami bahkan belum tentu bertemu hari itu. Mas Bhre datang untuk urusan kantor pusat, bukan untuk menemuiku seperti orang pacaran.

Tetapi tubuhku tetap dungu, sebodoh cara otakku bekerja.

Bayangakan saja, aku membuka lemari hampir lima belas menit hanya untuk memilih baju paling “nggak sengaja cantik”. Cantik, tetapi terkesan tak disengaja, tidak dipersiapkan.

Aku merasa geli sendiri. “Vivian Tanjaya,” seruku sambil menatap cermin, “umur tiga puluh dua. Tolong waras!”

Namun, tetap saja akhirnya aku memilih kemeja putih oversized favoritku dan celana hitam longgar yang menurut Nadya membuatku terlihat seperti kurator seni miskin. Atau alam bawah sadarku yang memerintahkan agar ketika mendadak bertemu Mas Bhre, ia melihatku sebagai Vivi yang selama ini ia kenal, agar tak terasa janggal, awkward.

Tuh, kan, mulai bodoh lagi.

 

***

 

Seperti diduga, kantor spontan ribut ketika Mas Bhre datang. Entah bagaimana, kehadiran orang itu memang selalu mengubah atmosfer ruangan. Bahkan pegawai baru yang belum terlalu dekat dengannya tetap otomatis lebih hidup ketika ia muncul.

“Pak Bhre balik!”

“Pak, oleh-olehnya mana?”

“Wah, rambut Mas tambah berantakan.”

Mas Bhre tertawa sambil melayani semuanya satu-satu. Masih sama seperti dulu. Hangat. Santai. Tidak pernah membuat orang merasa kecil.

Aku melihatnya dari meja sambil berusaha tampak normal meskipun aku sadar mengenai satu hal yang begitu menyebalkan, aku kangen sekali dengan orang itu. Kangen suaranya. Kangen cara jalannya. Kangen siluet tubuhnya lewat di antara kubikel. Kangen wajah lelahnya yang selalu terlihat hangat.

Sial!

Aku pikir saling berjauhan selama ini ini membuatku kuat.

Ternyata tidak.

Lalu matanya menemukanku. Dan senyum itu langsung berubah sedikit. Lebih kecil, lebih tenang, tetapi anehnya justru terasa lebih intim.

Dadaku langsung mencelos. Jantungku serasa jatuh ke lambung tanpa penahan.

“Vi,” sapanya.

Aku mengangkat tangan sedikit ke udara dari meja.

“Mas.”

Lihat selengkapnya