Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #47

Denial

Aku tidak pernah membayangkan laki-laki seperti Mas Bhre bisa terlihat rapuh. Selama ini, bahkan ketika ia berduka, bahkan ketika hidupnya seperti dihantam bertubi-tubi, tetap ada kesan bahwa ia akan sanggup berdiri lagi. Mungkin tertatih. Mungkin diam-diam hancur. Tetapi tetap berdiri.

Maka ketika malam itu ia berkata pelan, “Saya takut sebenarnya,” sesuatu di dalam dadaku ikut runtuh.

Lampu warung seafood itu kekuningan. Kipas anginnya berputar malas di atas kepala kami. Dari kejauhan terdengar bunyi piring dan orang tertawa. Semuanya biasa saja. Tetapi dunia rasanya mengecil hanya menjadi meja kami berdua.

“Saya takut sebenarnya.”

Kalimat itu terus menggantung di kepalaku.

Aku menatapnya pelan. “Takut apa, Mas?”

Mas Bhre tersenyum kecil. Senyum orang dewasa yang tahu jawabannya rumit.

“Takut salah lagi.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Ia menunduk sebentar, memainkan sendok di tangannya sebelum akhirnya bicara lagi.

“Dulu saya pikir setelah Novi nggak ada, hidup saya ya selesai di situ aja. Bukan berarti mau mati atau apa. Tapi...” ia tertawa kecil, lirih, “saya pikir bagian itu udah habis.”

Aku diam mendengarkan.

“Saya nggak nyari siapa-siapa, Vi. Bahkan waktu saya mulai sadar nyaman sama kamu, saya nggak diam saja. Saya lawan habis-habisan. Saya masuk ke perangkap denial.”

Aku mengenalnya begitu lama, aku tahu Mas Bhre bukan tipe laki-laki yang sembarangan memindahkan hati. Aku tahu dia tidak bohong, rasa itu sungguh ada dan berbalas.

“Saya takut saya cuma kesepian,” lanjutnya pelan. “Takut saya cuma kehilangan tempat pulang, terus kebetulan kamu ada.”

Ini adalah pertama kali kami berbicara lagi dengan intens mengenai hubungan dan perasaan kami yang menggantung dan rumit ini.

Itu sebabnya aku ingin menangis mendengar cara ia mengatakan itu. Begitu hati-hati. Begitu penuh rasa bersalah. Bahkan untuk jatuh cinta lagi pun ia meminta maaf kepada dunia.

Aku menatap meja beberapa detik karena takut mataku terlalu jujur.

Lalu aku tertawa kecil, meski suaraku tipis, “Mas tahu nggak lucunya?”

Ia menatapku lembut.

“Aku dulu malah punya narasi Mas pisah.”

Mas Bhre tersentak dan matanya membulat.

Aku spontan ketawa.

“Eh, jangan ketawa!” katanya sambil batuk-batuk kecil. “Ini pengakuan paling serem yang pernah saya dengar.”

Lihat selengkapnya