BHRE
Aku sengaja datang terlalu pagi ke bandara padahal penerbanganku masih satu setengah jam lagi. Tetapi kalau terlalu lama di Batam sekarang, aku takut berubah pikiran. Aku takut ingin tinggal lebih lama, khawatir aku mulai merasa bahwa aku benar-benar punya sesuatu untuk dipertahankan di kota ini selain pekerjaan. Yang paling besar adalah bahwa aku takut berharap.
Semalam setelah melepaskan Vivi pulang, aku tidak langsung kembali ke hotel. Aku memutari kota cukup lama sendirian. Aku melewati Nagoya, melewati Harbour Bay, Batam Centre, melewati jalan-jalan yang dulu terasa biasa saja.
Memang benar ternyata bahwa seseorang bisa mengubah bentuk satu kota tanpa sadar. Sekarang tiap sudut seperti punya jejak Vivi. Toko buku yang membuatku ingat cara dia mencium aroma halaman baru. Kafe yang membuatku ingat kebiasaannya mengaduk kopi terlalu lama sambil melamun. Bahkan minimarket yang selalu menjadi tempat kami berdebat soal Indomaret dan Alfamart.
Aku tertawa sendiri di lampu merah ketika mengingat itu.
Aku tidak menampik kenyataan bahwa Vivi cantik, semenjak dulu. Namun, baru kali inilah kecantikannya mempesonakanku, memenjarakan dan mengunci rasa itu.
Aku tidak menampik kenyataan bahwa Vivi cantik, semenjak dulu. Namun, baru kali inilah kecantikannya benar-benar mempesonakanku, memenjarakan dan mengunci rasa itu.
Rambutnya selalu menjadi hal pertama yang mencuri perhatianku. Hitam pekat, tebal, sedikit berombak alami, jatuh sampai melewati bahu seperti sengaja dibiarkan tumbuh tanpa banyak diatur. Kalau sedang tertawa atau berjalan sedikit lebih cepat, rambut itu ikut bergoyang lembut mengikuti langkahnya. Entah kenapa aku selalu ingin mengusapnya, merapikannya ke belakang telinga, lalu diam-diam mengagumi betapa sederhana sesuatu bisa terlihat begitu indah.
Tubuhnya yang tinggi dan ramping itu belakangan malah sedikit lebih kurus daripada biasanya, mungkin karena terlalu banyak pekerjaan, mungkin juga karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan seluruhnya. Tinggi badannya hampir menyamai tinggiku sehingga ketika kami berjalan berdampingan, aku tidak pernah merasa sedang melindungi perempuan kecil yang rapuh. Justru ada kesan bahwa ia mampu berdiri sejajar denganku. Tetapi anehnya, di balik tubuh yang tegak itu, selalu ada sesuatu yang membuatku ingin menjaganya. Seolah-olah ia sedang memikul beban yang tidak kelihatan.
Kulitnya cerah, hampir selalu tampak segar meskipun ia berkali-kali mengeluh kurang tidur. Dan senyumnya...
Aku berkali-kali disadarkan bahwa senyum Vivian Tanjaya benar-benar berbahaya.
Bukan karena sempurna seperti model iklan pasta gigi, melainkan karena terlalu jujur. Ketika ia tersenyum lepas, seluruh wajahnya ikut berubah. Matanya sedikit menyipit, pipinya terangkat. Senyum itu;ah yang mampu membuat ruang rapat yang tegang terasa lebih ringan. Mampu membuat lelah sehari penuh mendadak tidak terlalu penting. Sekarang, setelah aku tahu senyum itu juga bisa muncul hanya karena melihatku, aku tidak yakin masih bisa bersikap biasa-biasa saja.
Yang paling membuatku kalah sebelum berangkat berperang justru ekspresi malunya. Vivian sudah lebih dari tiga puluh tahun, perempuan dewasa yang cerdas, mandiri, terbiasa memimpin proyek dan menghadapi klien-klien sulit. Tetapi setiap kali ia gugup atau dipuji, ada keremajaan yang diam-diam muncul mengintip dari balik kedewasaannya. Pandangannya mendadak menghindar, bibirnya menahan senyum, ujung hidungnya sedikit mengerut, lalu ia mulai mengoceh cepat untuk menutupi rasa malunya sendiri. Menggemaskan. Sangat menggemaskan. Dan aku tidak pernah menyangka seorang perempuan bisa terlihat begitu dewasa sekaligus begitu muda dalam saat yang bersamaan.
Hal-hal inilah yang akhirnya menambahi bumbu rasa cintaku.