Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #49

Tinta Printer

PUTRA


Vivi itu tipe orang yang kalau pertama kali lo lihat, kesannya bukan “wah cantik banget” yang langsung nyolok. Bukan tipe yang bikin satu ruangan otomatis noleh waktu dia masuk, tidak jadi pusat orbit semesta. Bukan yang megah nan mewah, sensual atau cantiknya berlebihan. Tapi makin lama lo kerja bareng dia, makin terasa pesonanya itu. Dan gue baru sadar itu setelah hampir sebulan di Batam.

Awalnya gue pikir dipindahkan ke kantor cabang bakal awkward. Gue udah terlalu kebiasan sama ritme Jakarta yang semuanya cepat, semua orang ngomong sambil setengah panik, dan email yang telat dibalas tujuh menit aja bisa bikin grup kantor mendadak aktif seperti mau perang dunia. Sedangkan Batam beda. Bahkan udara bandara waktu gue mendarat terasa lebih lambat. Jalanannya nggak segalak Jakarta, laut kelihatan hampir di mana-mana, dan orang kantor di sini punya kebiasaan ngobrol dulu sebelum kerja, sesuatu yang di Jakarta kadang dianggap pemborosan waktu.

Sebelum gue berangkat, Pak Bhre sempat briefing online lumayan lama. Bahas kerjaan, adaptasi, client, timeline, standar cabang Batam, segala macam. Udah formal banget tuh. Terus pas meeting mau selesai, dia tiba-tiba bilang santai, “Kalau ada apa-apa, ngomong ke Vivi.”

Gue cuma mengangguk waktu itu.

Dalam kepala gue, Vivi pasti tipikal senior kantor yang rapi, serius, mungkin agak killer, dan punya spreadsheet warna-warni yang bikin orang takut salah ketik.

Ternyata pas hari pertama masuk, gue malah nemuin dia lagi jongkok depan printer.

Beneran jongkok. Sambil ngomel, “Kalau mau mati, mati sekalian aja. Jangan setengah-setengah gini.”

Gue langsung berhenti di depan ruangan sambil bengong. Anak kantor yang namanya Rara, yang nganterin gue, cuma ketawa kecil.

“Oh, santai. Itu Vivi.”

Perempuan itu mendongak. Rambut hitam panjangnya yang berombak agak berantakan, satu sisi diselipin asal ke belakang telinga. Tangannya penuh tinta printer. Mukanya cantik, tapi bukan cantik yang dibuat-buat. Lebih kayak orang yang terlalu sibuk hidup sampai lupa kalau dirinya menarik.

“Oh,” katanya sambil berdiri. “Anak Jakarta?”

“Kelihatan, ya?” respon gue.

“Iya. Kelihatan capeknya.”

Lalu dia nyodorin tangan. “Vivian.”

“Putra.”

“Jangan kaget ya sama kantor ini.”

“Kenapa?”

Dia melirik printer di belakangnya.

Chaos-nya kadang spiritual.”

Gue ngakak waktu itu.

Ternyata dia nggak bercanda. Kantor ini emang absurd, tapi absurd yang hidup. Beberapa hari pertama gue kerja di sana, gue mulai ngerti kenapa Pak Bhre specifically nyuruh gue ngomong ke Vivi kalau ada masalah. Cewek ini hafal hampir semuanya. Bukan cuma kerjaannya sendiri, tapi juga ritme satu kantor. Dia tahu client mana yang harus dibales cepat dan mana yang harus didiemin dulu biar emosinya turun. Dia tahu siapa yang lagi burnout cuma dari cara orang naro tas di meja. Dia hafal jadwal revisi, kebiasaan tiap divisi, bahkan lokasi kabel HDMI cadangan yang entah kenapa selalu hilang tiap presentasi.

“Vi, sori, file kemarin di mana, ya?”

“Drive B. Folder hijau. Jangan buka yang final-final-final-3 ya, itu bohong.”

“Aduh.”

“Aturan kantor kita sederhana. Kalau nama file udah ada angka tiga, jangan dipercaya.”

Sialnya semua orang di kantor ketawa karena itu akurat.

Yang bikin gue paling bingung sebenarnya cara dia ngomong. Cepat. Lompat-lompat. Kadang receh. Kadang mendadak intelektual banget. Dia bisa lima menit ngomong serius soal audience behaviour, habis itu tiba-tiba bilang, “Desain buruk itu pelanggaran HAM.” Terus lanjut kerja lagi seolah nggak ada yang aneh.

Anehnya, lama-lama gue kebiasa. Malah jadi nyariin. Soalnya tiap dia ada di ruangan, suasana kantor tuh kayak bergerak terus. Orang jadi lebih gampang ketawa. Deadline nggak terasa terlalu mencekik. Bahkan revisi client masih bisa ditertawain.

Suatu siang kami makan di pantry dan gue bilang gue belum pernah coba mi lendir. Dia langsung natap gue kayak gue habis menghina budaya nasional.

Lihat selengkapnya