Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #51

Nada

BHRE


Aku baru sadar ada yang salah ketika membaca satu kalimat sederhana dari Vivi melalui chatnya,

> “Lucu juga orangnya.”

Sudah. Cuma itu. Tidak ada nada aneh. Tidak ada kode. Tidak ada usaha membuatku cemburu. Tapi karena itulah aku langsung tahu masalahnya ada di diriku sendiri.

 

***

 

Aku memandangi layar laptop cukup lama malam itu. Di luar jendela apartemen Jakarta, hujan turun tipis-tipis. Lampu kendaraan memantul di jalan yang separuh basah. Kota ini tetap bergerak cepat seperti biasa, seolah semua orang sedang mengejar sesuatu.

Sedangkan aku? Aku malah terpaku pada satu chat receh tentang pegawai baru.

Memalukan.

Umurku sudah empat puluh lebih dan ternyata masih bisa merasa seperti laki-laki bodoh yang terganggu karena perempuan yang dia suka mengatakan laki-laki lain lucu. Aku tertawa kecil sendiri, lalu menghela napas panjang.

Sialan!

Berarti memang sudah separah ini ya?

Masalahnya bukan Putra. Aku tahu itu. Putra anak baik, pintar, cepat belajar, dan memang menyenangkan diajak kerja. Tapi itu yang membuatku tidak nyaman.

Aku tidak nyaman karena sadar semenjak aku pindah ke Jakarta, ada sebuah kemungkinan yang terbuka bahwa Vivi benar-benar bertemu orang lain. Orang yang hadir secara nyata di dekatnya. Bukan laki-laki yang terjebak ratusan kilometer jauhnya sambil menjaga hubungan abu-abu lewat meme dan chat malam.

Pikiran itu kemudian terlanjur masuk dan bersarang nyaman di dadaku, membuatku gelisah.

Aku menutup laptop lalu menyandarkan kepala ke sofa. Selama ini aku merasa sedang melakukan hal yang benar dengan cara memberi jarak. Itu karena aku pikir Vivi butuh ruang. Aku juga butuh waktu dan ruang untuk kembali memastikan bahwa perasaanku kepada Vivi bukan sekadar duka yang salah arah.

Tetapi sekarang, ketika membayangkan ada laki-laki lain yang mulai mengisi rutinitas Vivi, aku baru sadar satu hal yang brutal, aku sungguh tidak siap kehilangan dia bahkan sebelum benar-benar memilikinya.

Aku teringat wajah Vivi. Cara dia tertawa sambil memarahi makananku. Cara dia bicara terlalu cepat kalau sedang semangat. Cara dia selalu terlihat seperti punya seribu pikiran sekaligus di kepalanya. Mendadak semuanya terasa jauh sekali.

Aku membenci perasaan itu. Sepanjang hidup, aku bukan tipe orang posesif. Aku tidak pernah merasa harus memiliki seseorang sepenuhnya. Bahkan terhadap Novi dulu, rasa cintaku lebih banyak berbentuk menjaga.

Tetapi terhadap Vivi, ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak hanya ingin dia bahagia. Aku juga ingin tetap menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Rasa takut yang selama ini kupelihara, padahal juga kubenci setengah mati, berangsur-angsur menjadi rasa lega.

Aku takut karena akhirnya aku mengakui keinginanku sendiri. tetapi lega karena mungkin selama ini memang itu jawabannya.

 

Lihat selengkapnya