Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #52

Date?

VIVI


Awalnya aku pikir Mas Bhre hanya sedang ada urusan kantor di Batam. Itu adalah alasan yang masih dan paling masuk akal. Masuk akal sekali, malah. Soalnya selama dua tahun terakhir aku belajar bahwa cara paling aman menghadapi laki-laki itu adalah dengan tidak berharap terlalu jauh.

Maka ketika dia chat,

> “Vi.”

> “Akhir minggu depan kamu sibuk nggak?”

Aku masih tenang dan masih bisa berpikir normal. Asumsiku mungkin meeting atau evaluasi kantor. Kalau tidak ada acara khusus pun, paling banter sekadar mampir karena mau ke Singapore atau Malaysia. Tetapi beberapa menit kemudian hidupku langsung rusak lagi.

Aku sedang duduk di apartemen sambil makan mi instan ketika chat berikutnya masuk, bertubi-tubi.

> “Saya mau ke Batam.”

> “Dan sebelum kamu overthinking, saya mau bilang ini bukan urusan kantor.”

> “Saya memang mau ketemu kamu.”

> “Khusus.”

> “Saya yang pilih restorannya.

> “Saya bakal pakai blazer, cuma supaya kamu nggak nyalahin saya kenapa saya rapi.”

> “Dan supaya kamu tahu ini niat. Nanti jangan salahkan saya kalau datang kayak orang lagi liburan ke pantai Bintan.”

> “Padahal saya nggak masalah kamu pakai baju apa aja.”

> “Hehe.”

> “Rencananya saya di Batam paling lama dua hari.”

> “Setelah itu balik Jakarta lagi.”

> “Jadi...”

> “Anggap saja saya ngajak kamu date.”

Aku membaca chat itu tiga kali. Empat kali. Lima kali.

Lalu menaruh HP pelan-pelan ke meja seolah benda itu baru saja mengubah struktur hidupku.

Date?

DATE!

Mas Bhre menggunakan kata “date”, dengan aku?

Aku langsung berdiri. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri lagi.

“Oh my God!” gumamku pelan sambil memegang kepala sendiri.

Jantungku berdetak terlalu cepat sampai aku merasa agak mual. Ini berbeda. Berbeda dari semua interaksi kami selama ini. Dulu semuanya selalu bisa kusembunyikan di balik ambiguitas, di balik perhatian, chemistry, dan di balik kalimat, *Memang kami dekat sebagai rekan kerja.”

Lihat selengkapnya