Aku bangun jam enam pagi pada hari Sabtu dengan perasaan seperti mau menghadapi sidang skripsi, wawancara kerja, dan kiamat, ketiganya sekaligus. Padahal yang akan kulakukan malam nanti cuma makan malam.
Makan malam.
Memang sih, makan malam dengan laki-laki yang sudah kucintai selama setengah hidupku. Makan malam dimana perasaan kami berdua telanjang bulat, tidak ditutup-tutupi lagi.
Aku menatap langit-langit apartemen cukup lama sebelum akhirnya menutup muka pakai bantal dan mengerang pelan. “Tuhan… aku nggak kuat.”
Jantungku bahkan sudah tidak berhenti berdebar sejak bangun tidur.
***
Mas Bhre sampai di Batam sekitar jam sembilan pagi. Aku tahu karena ada chat masuk ketika aku masih duduk di meja makan sambil menatap roti tawar tanpa selera.
> “Saya sudah sampai.”
> “Karena saya tahu kamu pasti overthinking, iya, saya serius.”
> “Saya juga deg-degan.”
> “Jadi kita impas.”
Aku langsung menutup HP dan memukul meja pelan. Kenapa sih dia harus lucu begini? Katanya dia juga deg-degan, tapi kenapa dia bisa chat setenang ini? Aku yang mau mati dari tadi.
***
Orang kantor yang tahu soal kencan ini cuma Celine dan Rara. Dan itu pun karena aku bodoh. Aku seharusnya tidak cerita. Masalahnya, aku tidak sanggup menanggung kepanikan ini sendirian.
Jam sebelas siang Celine video call dengan wajah penuh dosa.
“Kamu masih hidup?”
“Beneran, aku mau muntah.”
Celine malah tertawa puas.
Rara ikut nimbrung di group call.