Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #54

Romantis

BHRE


Aku datang terlalu cepat, empat puluh menit lebih awal, tepatnya. Agak memalukan sebenarnya. Aku bahkan sempat duduk sambil menertawakan diriku sendiri karena baru kali ini dalam hidup aku merasa segugup ini hanya untuk makan malam dengan satu orang perempuan. Padahal toh aku yang dengan lancang mengajaknya. Aku juga yang sok tenang di chat. Sekarang akibatnya kutanggung sendiri.

Restoran yang kupilih berada di lantai paling atas hotel, dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke laut malam Batam. Dari sini, kota terlihat seperti gugusan cahaya yang terapung di air hitam. Lampu-lampu apartemen dan hotel memantul samar di permukaan laut, sementara di kejauhan, titik-titik terang Singapura berkilauan seperti dunia lain yang menggantung di horizon.

Indah sekali.

Tak sangka ini terasa romantis.

Lampu restoran dibuat redup dan hangat, memantulkan warna emas lembut ke meja-meja marmer gelap. Musik jazz pelan mengalun dari speaker tersembunyi, nyaris seperti bisikan. Gelas-gelas wine berkilat terkena cahaya lampu gantung. Semua orang berpakaian rapi. Semua orang berbicara dengan suara pelan. Tempat seperti ini memang diciptakan untuk membuat orang jatuh cinta atau membuat orang menyadari bahwa mereka sudah jatuh cinta sejak lama. Aku duduk di tengah semua itu sambil menunggu Vivi.

 

***

 

Aku mencoba terlihat tenang. Membuka menu, menutupnya. Aku minum air, melihat jam, kemudian mengutuk diri sendiri. Blazer yang kupakai mendadak terasa terlalu formal. Aku bahkan sempat berpikir Vivi bakal menertawakanku habis-habisan.

Lalu adegan itu terjadi. Lift terbuka. Seluruh isi kepalaku langsung kosong.

Aku melihatnya bahkan sebelum dia melihatku.

Vivi berdiri beberapa meter dari pintu masuk restoran sambil celingak-celinguk mencari meja kami. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai bergelombang melewati bahu telanjang itu. Dress hitam sederhana yang ia kenakan jatuh pas mengikuti tubuhnya: elegan, lembut, dan mematikan sekaligus. Tanpa lengan. Punggungnya terbuka sebagian. Tidak vulgar. Justru karena sederhana, semuanya jadi terasa jauh lebih menghancurkan.

Aku membeku.

Seumur hidup, aku tahu Vivi cantik. Mana mungkin tidak tahu? Tetapi rupanya selama ini aku bodoh. Sebodoh itu. Malam ini baru kusadari bahwa perempuan itu bukan sekadar cantik, dia luar biasa cantik.

Aku refleks berdiri dan melambai kecil.

Lihat selengkapnya