Aku telat tiga menit. Tapi selama tiga menit itu aku sudah menciptakan tujuh belas skenario memalukan di kepala sendiri. Mulai dari tersandung karpet restoran, salah duduk di meja orang lain, sampai mendadak kehilangan kemampuan bicara begitu melihat Mas Bhre. Aku bahkan sempat berdiri cukup lama di depan cermin lift hotel sambil menatap diri sendiri dengan curiga.
Ini benar aku?
Vivian Tanjaya yang biasanya ke mall pakai kaus longgar dan tote bag penuh kertas kerja? Kenapa sekarang malah pakai dress hitam begini? Serta kenapa hidup bisa sampai ke titik ini?
Ketika pintu lift terbuka, aku langsung disambut suasana restoran yang membuat lututku makin lemas. Tempat itu tidak terlalu ramai, tetapi justru itu yang membuat semuanya terasa intim. Lampu-lampunya redup hangat, memantul lembut ke meja marmer dan gelas-gelas bening. Musik jazz mengalun pelan, nyaris seperti napas. Aroma kopi, wine, dan makanan panggang bercampur tipis di udara dingin ruangan.
Di balik dinding kaca besar restoran itu kota Batam malam hari terbentang seperti lautan cahaya. Aku bisa melihat gedung-gedung apartemen, hotel-hotel tinggi, garis lampu kendaraan di jalan utama, lalu laut hitam yang memisahkan pulau ini dengan Singapura. Di kejauhan, cahaya negeri seberang terlihat kecil-kecil, seperti gugusan bintang yang jatuh ke permukaan bumi.
Indah sekali.
Tempat seperti ini rasanya seperti memang dibuat untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta. Aku langsung ingin pulang.
***
Aku berdiri di dekat pintu masuk sambil mencari meja kami. Lalu aku melihatnya.
Mas Bhre berdiri dari kursinya dan melambai kecil.
Untuk sesaat seluruh isi kepalaku benar-benar kosong.
***
Aku tahu laki-laki itu tampan. Itu fakta umum. Sejak SMA pun orang-orang sudah tahu. Apalagi di masa kuliah dimana mahasiswa sudah lebih dewasa dan terbuka serta berani mengutarakan pendapat mereka. Pujian di sini dan sana dari teman-temanku sudah awam dibagikan.
Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda ketika aku melihatnya berdiri di bawah cahaya hangat restoran itu. Blazer gelap yang ia pakai membuat tubuhnya terlihat lebih tegap. Wajahnya rapi seperti biasa, tetapi ada kesan tenang dan dewasa yang mendadak terasa jauh lebih jelas ketika dia tidak sedang berada di kantor.
Aku membenci diriku sendiri karena jantungku langsung kacau. Setelah semua proses panjang yang kulalui untuk menjadi lebih waras, ternyata aku tetap selemah ini di depan seorang Pontius Bhre Nareswara.
Aku berjalan mendekat sambil berusaha terlihat normal. Padahal di dalam kepala aku sudah seperti orang mau presentasi skripsi.
“Sorry lama, ya, Mas?” tanyaku cepat.
“Nggak,” jawabnya sambil menarik kursi untukku.
Gerakan sederhana tapi dia selalu punya cara membuat hal kecil terasa terlalu berarti bagiku.
Aku duduk pelan sambil berusaha mengatur napas. Aroma parfumnya langsung terasa samar ketika dia kembali duduk di seberangku. Aroma yang terlalu familiar. Aroma yang selama bertahun-tahun menempel di ruangannya, di mobilnya, di jaketnya ketika kami pernah kehujanan sepulang survei.
Aku tersadar. Malam ini aku benar-benar sedang berkencan dengannya. Bukan halusinasi. Bukan narasi. Bukan harapan gila yang kubangun sendiri.
Nyata.
Aku mengambil menu hanya supaya punya sesuatu untuk dilakukan selain menatap wajahnya terus-menerus. Sialnya, itu juga tidak membantu. Tiap kali aku mendongak sedikit, aku tetap bisa melihatnya dari sela menu. Melihat jemarinya yang mengetuk meja pelan. Melihat garis rahangnya ketika ia tersenyum kecil. Melihat matanya yang terus mengarah ke aku. Semuanya terasa terlalu intim.
“Kamu gugup, ya?” tanyanya tiba-tiba.
Aku langsung refleks tertawa. “Banget.”
Dia ikut tertawa kecil. Syukurnya tawanya itu yang sedikit menenangkanku. Di tengah suasana romantis yang bikin mau pingsan ini, Mas Bhre tetap terasa seperti Mas Bhre yang kukenal. Masih ada kehangatan santai itu. Masih ada nada bicara yang membuatku merasa aman. Meskipun sekarang ada sesuatu yang lain di bawah semuanya. Sesuatu yang membuat udara di antara kami terasa lebih berat.
Aku melirik keluar kaca besar restoran.
Lampu-lampu Singapura di kejauhan terlihat samar tertutup kabut tipis malam. Laut di bawah sana hitam dan tenang, sesekali teriris cahaya kapal yang bergerak lambat. Dari ketinggian ini Batam terlihat cantik dengan cara yang jarang kusadari sebelumnya. Mungkin sekali karena malam ini aku melihat semuanya dalam keadaan berbeda. Atau mungkin juga karena aku sedang terlalu bahagia.
Tentu saja ketakutan dan kekhawatiran itu masih ada karena selama bertahun-tahun aku sudah belajar hidup tanpa meminta apa-apa dari Mas Bhre. Aku belajar mencintainya diam-diam, belajar menahan diri, serta belajar menerima bahwa ia mungkin tidak akan pernah menjadi milikku.
Lalu siapa sangka ketika akhirnya aku berhasil berdamai dengan semua itu, menyadari bahwa tidak ada narasi di dalam pikiranku yang masuk akal dan dapat menjadi nyata, hidup malah membawaku ke sini. Duduk berdua dengannya di restoran mahal. Di bawah taburan lampu kota. Di depan laut malam dan cahaya Singapura. Seolah semesta sengaja ingin menguji seberapa kuat jantungku sebenarnya.
***