Setelah makan malam selesai, Mas Bhre mengajakku keluar ke balkon restoran.
Udara malam langsung menyambut kulitku yang terbuka. Hangat khas kota laut, tetapi tetap membawa angin tipis yang membuat rambutku bergerak pelan. Dari sini, pemandangan Batam terlihat jauh lebih indah dibanding dari dalam restoran. Gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya ke laut hitam yang tenang. Di kejauhan, Singapura masih bersinar seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi.
Aku berdiri di samping Mas Bhre tanpa bicara beberapa saat. Namun, diam bersamanya tidak pernah terasa kosong.
“Kamu tahu nggak,” katanya akhirnya pelan sambil melihat ke depan, “saya tadi hampir batal datang.”
Aku langsung menoleh.
“Hah? Kenapa?”
Dia tertawa kecil, malu-malu, sesuatu yang sangat jarang kulihat dari laki-laki itu.
“Deg-degan.”
Aku spontan tertawa.
“Mas bisa deg-degan juga ternyata.”
“Parah malah.”
Aku memandang wajahnya dari samping. Cahaya kota memantul lembut di matanya. Garis wajahnya terlihat lebih tenang malam ini. Lebih muda juga, anehnya. Tidak ada lagi lelah emosional yang dulu selalu diam-diam kutangkap ketika kami masih satu kantor, bahkan tidak terlihat capek fisik yang kadang masih tertanggap menempel di garis-garis wajahnya.
Kini dia juga menoleh ke arahku.
Saat itu juga tiba-tiba suasana berubah, seakan ada tirai panggung adegan sebuah drama yang ditarik terbuka.
Tatapannya terlalu dalam, terlalu dekat, terlalu nyata.
“Ada apa?” tanyaku pelan melihat tatapannya yang seintens itu.
Mas Bhre menghela napas kecil sebelum tersenyum samar. “Saya tahu kamu cantik.”
Dadaku berdegup keras.
“Tapi saya kayaknya baru sadar…” Dia berhenti sebentar, menatapku dari kepala sampai kaki dengan cara yang membuat lututku melemah, “…kamu secantik ini.”
Aku langsung kehilangan kemampuan bicara.
Benar-benar tak mampu menggerakkan lidahku. Karena tidak ada satu pun fantasi gilaku dulu yang mampu menyiapkan diriku untuk mendengar kalimat itu langsung dari mulut Pontius Bhre Nareswara.
Aku cuma bisa menatapnya.
Mungkin karena wajahku terlihat terlalu syok, dia malah tertawa kecil.
“Jangan lihat saya begitu,” katanya.
“Mas…” suaraku bahkan hampir tidak keluar. “Aku nggak tahu harus jawab apa.”
“Ya jangan dijawab.”
“Tapi aku malu.”
“Bagus.”