Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #57

Ritme

Aku resmi tidak bisa hidup normal lagi. Perubahan itu bukan perubahan besar yang dramatis, tetapi terasa begitu manis, hangat, dan penuh cinta. Aku menikmatinya sepenuhnya.

 

***

 

Hal pertama yang kulakukan setelah Mas Bhre kembali ke Jakarta adalah menelepon Celine. Alasan khusus? Aku mau pamer. Tidak ada alasan yang lebih mulia dari itu. Aku sudah menderita bertahun-tahun. Aku berhak menjadi sosok yang sedikit menyebalkan. Dan perempuan itu langsung menjerit begitu aku mengangkat telepon.

“GIMANAAAAA?”

Saking nyaringnya suara di seberang sana, aku sampai menjauhkan ponsel dari telinga.

“Cel, demi Tuhan, tetangga apartemenku nanti kira ada pembunuhan.”

“AKU NUNGGUIN DARI TADI!”

“Astaga.”

“AKU BAHKAN NUNGGU UPDATE LEBIH SERIUS DARIPADA NUNGGU HASIL PEMILU!”

Aku langsung tertawa sampai hampir melorot jatuh dari sofa. Beberapa detik kemudian aku mendadak malu sendiri karena sekarang aku harus menceritakan sesuatu yang bahkan masih terdengar tidak masuk akal di kepalaku. Bahwa laki-laki yang selama ini cuma jadi sumber penderitaan romantisku ternyata sekarang benar-benar menjadi pacarku.

Pacar.

Kekasih.

Pasangan.

Bahkan menyebut kata itu membuatku ingin menjerit ke bantal.

“Jadi?” suara Celine berubah seperti reporter infotainment. “Mas Bhre pegang tangan kamu?”

“Iya.”

“Peluk?”

“Iya.”

“CIUM?”

Aku diam sebentar. Lalu menjawab pelan sambil menahan senyum bodoh, “Nggak.”

“Hah?”

Aku menggigit bibir. Lalu menyerah.

“Kami ciuman.”

Sunyi. Dua detik. Tiga detik.

Lalu, “BANGSAAAAAAATTTTTTTTTTT!” umpat Celine, begitu keras sampai aku pikir dia sedang marah-marah denganku.

Aku tertawa keras sampai perutku sakit.

Tak lama Rara ikut nimbrung melalui sambungan group call.

“APAAAA? APA YANG TERJADI? AKU KETINGGALAN APAAN?”

Tentu saja. Kalau ada keributan sebesar ini, Rara pasti muncul.

“VIVI CIUMAN SAMA MAS BHRE!” seru Celine.

“ASTAGAAAAAA!”

Aku langsung menutup wajah dengan kedua tangan.

“Kenapa sih kalian berdua lebih heboh daripada aku?”

Tidak ada jawaban. Namun, yang jelas mereka tidak berhenti menekanku untuk bercerita tentang apa yang terjadi waktu itu. Maka, setelah itu, habislah aku. Benar-benar habis. Mereka memaksaku menceritakan semuanya dari awal. Restorannya. Pemandangannya. Dress yang kukenakan. Blazer yang dipakai Mas Bhre. Makanan yang bahkan nyaris tidak kuingat karena terlalu gugup. Balkonnya. Pengakuannya. Pelukannya. Sampai akhirnya…

“Stop,” kataku.

“Kenapa?” protes Celine.

“Aku malu.”

“Lanjut,” balasnya tegas, cepat.

“Cel.”

“Lanjut!”

“Rara, tolong bantu aku.”

“Lanjut juga.”

Pengkhianat. Aku akhirnya menceritakan semuanya. Yang membuatku kesal, semakin banyak aku bercerita, semakin aku sadar betapa bahagianya diriku.

Sampai suatu titik Celine mendadak diam.

Benar-benar diam.

Aku langsung curiga.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Cel.”

“Cuma lagi mikir aja.”

“Mikir apa?”

Aku mendengar ia menghela napas panjang.

Lalu tertawa kecil.

“Sebenernya ya... aku nggak terlalu kaget.”

Aku mengernyit.

“Hah?”

“Kalau kalian akhirnya barengan.”

Rara langsung menyahut.

“Bener sih.”

Aku semakin bingung.

“Lho?”

“Vivi...” suara Rara terdengar geli. “Kalian tuh dari dulu udah kayak punya bahasa sendiri.”

“Apaan sih?”

“Serius.”

Celine tertawa.

“Kadang rapat aja aku nggak ngerti kalian ngomong apa.”

“Berlebihan.”

“Nggak.”

Lihat selengkapnya