Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #58

Sidang

Aku masih tidak percaya Mas Bhre senekat itu datang ke rumah dengan tiba-tiba bahkan tanpa memberitakukanku sebelumnya. Ia datang bukan untuk menjemputku. Ini juga bukan pertemuan tak diduga dengan Papa di gereja atau berpapasan dengan Mama di pusat perbelanjaan.

Mas Bhre datang dengan sengaja dan terencana sebagai laki-laki yang jelas-jelas sedang berusaha mendekati anak perempuan mereka. Maka seperti yang sudah kuduga, begitu pintu rumah tertutup setelah kepergiannya, suasana langsung berubah.

Tidak ada atmosfir kemarahan dan kemurkaan, tetapi malah itu yang membuatku lebih gugup.

Mama duduk di sofa ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat di pangkuannya. Papa masih membaca berita di koran, tetapi aku tahu ia menanti apa yang akan terjadi juga mendengarkan dengan awas. Aku sendiri duduk di kursi tunggal seperti terdakwa yang sedang menunggu putusan.

Cece Vania, entah bagaimana, kebetulan sekali sedang video call denganku. Ia bersikukuh untuk ikut dalam ‘pengadilan’ keluarga ini ketika aku katakan bahwa belum lama tadi Mas Bhre datang ke rumah, membawa makanan di dalam paper bag untuk orang rumah.

Beberapa menit tidak ada yang bicara. Lalu Mama menghela napas panjang.

"Mama bukan nggak suka sama dia."

Kalimat yang selalu berbahaya. Karena biasanya setelah itu akan datang semua alasan yang sebenarnya.

"Mama nggak terlalu kenal dia selain dari cerita-ceritamu. Makanya Mama nggak punya alasan untuk nggak suka sama dia."

Aku mengangkat kepala. Mama menatapku.

"Dia sopan. Cara ngomongnya baik. Datang ke rumah juga tahu tata krama. Nggak sombong. Nggak aneh-aneh."

Mama berhenti sejenak.

"Itu yang bikin Mama makin pusing."

Dadaku mulai terasa berat karena aku tahu arah pembicaraan ini.

"Vi, Mama mau tanya satu hal."

Aku mengangguk pelan.

"Memang nggak ada orang lain?"

Aku menunduk. Tentu saja ada. Secara statistik mungkin ada jutaan. Tetapi tidak ada yang bernama Pontius Bhre Nareswara.

“Mama serius,” suara Mama melembut, tetapi tidak melemah.

“Kau itu perempuan. Bukan umur dua puluhan lagi. Kau sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa menikah itu bukan cuma soal suka."

Aku diam.

“Mama sama Papa menikah sudah berpuluh-puluh tahun. Saudara-saudara kita juga. Mama sudah lihat macam-macam.”

Mama menatap meja sebentar sebelum melanjutkan. “Cinta itu penting. Tapi setelah lima tahun? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Yang tersisa itu keluarga, kebiasaan, cara berpikir, cara menghadapi masalah.”

Aku mulai memahami bahwa ini bukan soal Mas Bhre secara khusus. Ini mengenai ketakutan yang jauh lebih besar.

"Dia bukan Cina, Vi."

Kalimat itu akhirnya keluar juga.

Aku tidak langsung membantah. Karena memang benar.

“Mama tahu zaman sekarang orang bilang itu nggak penting. Tapi kenyataannya masih penting.”

Mama menggeleng pelan.

“Bukan karena ras. Bukan juga karena Mama merasa kita lebih baik. Tidak! Tapi karena budaya itu nyata.”

Aku menatap langsung matanya. Di sana aku melihat seseorang yang sedang benar-benar berusaha menjelaskan ketakutannya.

“Kita ini dibesarkan berbeda. Cara menghormati orang tua berbeda. Cara mengatur uang berbeda. Cara menghadapi keluarga besar berbeda. Cara merayakan sesuatu berbeda. Cara melihat hidup juga bisa berbeda. Semua bisa karena pengalaman, apa yang kita percayai, atau pola pikir yang sudah akrab dengan kita dari dulu.”

Mama menarik napas panjang. “Kau pikir kenapa orang tua zaman dulu suka cari pasangan yang latar belakangnya mirip? Itu karena mereka sudah belajar dari pengalaman.”

Sunyi sejenak sebelum kemudian Mama melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Belum lagi dia statusnya sekarang duda.”

Dadaku langsung mengencang.

“Mama tahu itu bukan salah dia. Mama tahu istrinya meninggal. Kau tahu kalau Mama juga kasihan waktu kau cerita tentang itu. Tapi fakta tetap fakta.”

Mama menatapku lurus. “Dia pernah punya kehidupan sebelum kau. Dia pernah mencintai orang lain sebelum kau. Dia pernah membangun rumah tangga sebelum kau.”

Aku menggigit bibir. Ini adalah salah satu hal yang selama ini paling kutakuti.

“Mama takut suatu hari kau akan merasa dibandingkan. Mama takut kau masuk ke kehidupan yang sudah pernah dijalani orang lain. Gimana kalau kau harus hidup dengan bayangan yang bahkan bukan kesalahan siapa-siapa?”

Aku tidak menjawab karena memang harus aku akui bahwa sebagian ketakutan itu pernah menjadi milikku juga.

Mama menghela napas lagi. Kali ini suaranya terdengar lelah.

“Ada satu hal lagi yang mungkin kau nggak suka dengar.”

Aku sudah tahu.

Omongan orang.

Dan benar saja.

“Kita hidup di masyarakat. Di sana ada saudara, keluarga besar, teman gereja, orang-orang yang kenal kita.”

Mama menggeleng pelan.

“Mama tahu seharusnya kita tidak hidup berdasarkan omongan orang. Tapi kenyataannya kita tetap hidup di tengah orang.”

Ia tersenyum tipis. Sedih.

“Hari ini mungkin mereka diam. Besok mereka tanya. Lusa mereka mulai komentar. Minggu depan mereka mulai membandingkan. Kenapa anaknya yang cantik, pintar, karier bagus, malah pilih duda? Kenapa nggak dapat yang sebaya? Kenapa nggak dapat orang Cina? Kenapa harus begitu? Kenapa harus begini? Ratusan pertanyaan kenapa.”

Lihat selengkapnya