Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #59

Syarat

Mama masih diam setelah Papa selesai bicara. Ruangan kembali tenang. Vania bahkan tidak lagi tertawa-tawa atau menakan senyumannya dari layar. Semua orang tampak benar-benar sedang berpikir.

Aku memandangi tangan sendiri cukup lama. Lalu menarik napas pelan, “Ma.”

Mama menoleh. Aku tidak langsung bicara. Karena jujur saja, aku takut salah memilih kata atau terdengar terlalu emosional. Aku takut terdengar seperti perempuan yang sedang membela pacarnya mati-matian karena sedang jatuh cinta. Padahal bukan itu yang ingin kusampaikan.

“Ma, Pa...”

Aku menelan ludah. “Aku tahu semua yang Mama bilang. Dan sebenarnya... sebagian besar itu dulu juga jadi ketakutanku,” ujarku jujur.

Kali ini Papa yang menoleh.

Aku tersenyum kecil. “Hampir semua malah.”

Aku pernah memikirkan semuanya. Berulang kali. Jauh lebih sering daripada siapa pun di ruangan itu. Aku sudah hidup dengan perasaan ini terlalu lama.

“Bukan beberapa bulan.”

Aku tertawa kecil.

“Bahkan bukan beberapa tahun.”

Dadaku terasa sesak.

“Sudah terlalu lama sampai aku sendiri lupa kapan tepatnya semuanya dimulai.”

Sunyi.

“Aku nggak pernah bangun suatu pagi lalu memutuskan suka sama Mas Bhre. Kalau bisa begitu, dari dulu sudah kulakukan."

Papa tersenyum tipis. Mama masih mendengarkan.

Aku melanjutkan pelan, “Yang bikin aku sulit melepaskan dia bukan karena aku mengidealkan dia. Bukan karena dia ganteng. Bukan karena dia pintar. Bukan karena dia baik sama aku.”

Aku menggeleng.

“Itu semua bonus.”

Lihat selengkapnya