Waktu remaja dulu, aku benar-benar tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.
Ketika teman-teman perempuan lain sibuk membahas gaun pengantin impian, warna dekorasi, konsep prewedding, atau nama anak masa depan mereka, aku justru punya mimpi yang jauh lebih sederhana.
Aku cuma ingin bisa hidup sendiri. Mandiri. Punya uang sendiri. Punya tempat tinggal sendiri. Tidak merepotkan orang tua. Bisa beli buku tanpa merasa bersalah. Bisa duduk sendirian di café sambil baca novel tanpa ditanya kapan nikah.
Sesederhana itu.
Dan waktu itu rasanya mimpi itu sudah cukup besar mengingat bagaimana kedua orang tuaku memperlakukanku, menyayangiku, sekaligus memanjakanku.
Aku bahkan tidak benar-benar percaya pada cinta. Atau lebih tepatnya… aku tidak percaya cinta akan terjadi padaku.
Mungkin karena satu-satunya laki-laki yang benar-benar kuinginkan sejak remaja ya cuma Pak Bhre. Dan itu terdengar terlalu mustahil bahkan untuk ukuran delusi.
Guru. Dosen. Laki-laki dewasa yang tenang dan cemerlang. Orang yang dari dulu kulihat seperti milik dunia yang lebih tinggi dibanding diriku.
Jadi aku tumbuh dengan asumsi sederhana, oh, berarti aku memang tidak akan menikah.
Selama itu aku baik-baik saja dengan kemungkinan itu.
Harusnya sekarang aku sudah mencapai mimpi masa kecilku itu. Aku punya pekerjaan bagus. Punya apartemen sendiri. Punya penghasilan tetap. Punya hidup yang cukup tenang.
Harusnya itu sudah cukup. Tetapi hidup ternyata lucu. Karena laki-laki yang selama ini hanya berani kucintai diam-diam malah datang mengetuk pintu hidupku secara nyata.
Dan sekarang… aku malah sedang memikirkan kemungkinan menikah dengannya. Kadang aku masih merasa ini semua terlalu absurd.
***
“Aku tuh bukan wifey material, Mas.”
Kalimat itu sudah berkali-kali kukatakan kepada Bhre. Kadang lewat telepon. Kadang sambil rebahan di sofa apartemenku. Kadang ketika kami sedang makan malam pada saat ia mengunjungi Batam. Yang jelas, setiap kali aku sedang kumat tiba-tiba overthinking tanpa alasan yang jelas. Padahal dari awal, aku sudah menekankan kepada dia bahwa aku siap untuk diperjuangkan, dan aku pun ikut berjuang bersamanya.
Setiap kali aku mengatakannya, reaksinya hampir selalu sama. Dia terlihat bingung. Seolah aku sedang mempertanyakan sesuatu yang menurutnya sudah sangat jelas.
“Aku serius,” kataku suatu malam sambil menyandarkan kepala ke bahunya. “Aku nggak bisa masak.”
“Kita bisa belajar lah kalau masalah itu,” jawabnya ringan.
“Aku juga nggak rajin beberes.. Aku nggak terlalu telaten ngurus rumah.”
“Itu juga bisa kita bisa atur nantinya. Kita cari sistem yang cocok.”
Dengan nada ringan yang sama.
Aku tidak berhenti mengeluh. “Aku nggak keibuan.”
Dia tertawa kecil.
“Memangnya saya cari ibu baru?”
Aku langsung mendengus kesal. “Mas serius dong.”
“Saya serius.”
“Enggak. Mas nggak ngerti maksudku.”
Aku mengangkat kepala dan menatapnya. “Mas pernah punya istri yang baik.”
Untuk sesaat wajahnya melunak.
Aku melanjutkan pelan, “Mas pernah punya rumah tangga. Pernah hidup bertahun-tahun sama orang yang tahu cara ngurus rumah, ngurus keluarga, ngurus hidup.”
Dadaku mulai terasa sesak.
“Sedangkan aku...”
Aku tertawa hambar.
“Aku bahkan kadang lupa taruh buku catatanku di mana.”
“Vi.”
“Aku serius, Mas.”
Aku menatapnya.
“Aku tuh nggak punya banyak kualitas yang biasanya dicari orang buat jadi istri.”
Mas Bhre menggenggam tanganku. Erat. Hangat. Dan sangat tenang.
“Saya nggak cari Novi.”
Aku langsung terdiam. Nada suaranya tidak keras. Tetapi tegas. Seperti sesuatu yang sudah lama ia pikirkan dan siap untuk ia ungkapkan.