Aku berusia tiga puluh empat menuju tiga puluh lima ketika akhirnya kami menikah. Dan bahkan sampai pagi hari misa pemberkatan di gereja Katolik Santo Petrus Batam itu tiba, sebagian kecil diriku masih merasa semua ini terlalu mustahil untuk benar-benar terjadi.
Sebab bilamana ada seseorang mengatakan kepada Vivian Tanjaya yang berusia tujuh belas tahun, seorang gadis kikuk yang diam-diam jatuh cinta pada guru dan dosennya sendiri, bahwa suatu hari ia akan berdiri di altar bersama laki-laki itu, menggenggam tangannya sebagai suami, mungkin aku akan menganggapnya cerita murahan yang terlalu dibuat-buat.
Tetapi hidup ternyata kadang lebih absurd dibanding fiksi. Dan cinta, rupanya, benar-benar bisa bertahan selama itu.
Perjalanan menuju hari pernikahan kami bukan perjalanan pendek.
Butuh waktu enam bulan hanya untuk memastikan semua proses gereja selesai dan kami resmi diperbolehkan menikah. Kursus persiapan pernikahan. Wawancara pastoral. Dokumen baptis. Surat-surat administrasi. Konseling. Diskusi panjang tentang kehidupan rumah tangga, anak, keluarga, keuangan, bahkan luka masa lalu.
Lucunya, justru di proses-proses itulah aku semakin mengenal Mas Bhre sebagai manusia utuh. Bukan lagi guru. Bukan dosen. Bukan rekan kerja dan atasan. Bukan sosok yang selama ini kuidealkan dari jauh. Melainkan laki-laki yang sekarang duduk di sampingku mengisi formulir gereja sambil salah mengisi kolom tanggal karena terlalu capek. Laki-laki yang diam-diam mencatat semua vendor pernikahan di spreadsheet lengkap dengan tabel biaya, kemungkinan cuaca, efisiensi konsumsi, sampai simulasi jumlah tamu yang membuatku tertawa sampai sakit perut.
Laki-laki yang rela terbang Jakarta–Batam berkali-kali hanya untuk menemui keluargaku, makan malam bersama Papa dan Mama, menghadiri misa bersama kami, atau sekadar duduk mengobrol sambil membantu Papa memilih keramik teras rumah seperti calon menantu sungguhan.
Dan Tuhan… dia memang sungguh-sungguh memperjuangkanku.
Tidak mudah, tentu saja.
Mamanya yang Manado itu luar biasa heboh.
Beberapa kali aku mendengar langsung bagaimana beliau mempertanyakan pilihan Mas Bhre ini lewat telepon, “Bhre, kamu yakin dengan dia? Kamu yakin sudah sembuh?”
Dan Mas Bhre cuma menjawab tenang, “Saya maunya Vivi, Ma.”
Aku sampai tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya. Telinga kami memang harus kebal dan kapalan untuk menghadapi itu semua.
Di sisi lain, keluarga besarku yang Cina totok juga tidak kalah menguras tenaga. Ada ie ie[1] yang bertanya terlalu detail soal status duda. Ada cek cek[2] yang diam-diam menyelidiki pekerjaan Bhre. Ada keluarga jauh yang mencoba “mengingatkan” Mama soal perbedaan budaya.
Tetapi anehnya, setiap badai itu datang, aku dan Mas Bhre justru semakin tenang. Karena kami tidak lagi saling menebak-nebak perasaan. Kami sudah memilih satu sama lain. Dan mungkin memang benar kata orang, kalau jodoh, jalan yang tadinya tampak mustahil perlahan akan terbuka sendiri.
Tidak kalah aneh dan lucunya justru keputusan kami soal pesta.