Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #62

Status

Tiga minggu setelah menikah, aku menangis di café. Tentu saja sudah bisa diduga, sahabat-sahabatkuku langsung mengira rumah tanggaku mendadak hancur.

 

***

 

Kami berlima akhirnya bisa berkumpul lagi setelah beberapa minggu sibuk dengan hidup masing-masing. Veronica datang bersama aroma bayi dan kehidupan ibu muda yang sekarang melekat padanya. Jessica sudah mulai kembali lincah setelah melahirkan. Nadya tetap seperti biasa: hoodie oversized, kacamata bulat, rambut dikuncir asal, tetapi tetap cantik dengan cara yang membuat orang kesal.

Sedangkan aku? Aku datang sebagai istri orang.

Sampai sekarang aku masih geli memikirkan status itu.

Belum lima menit duduk, Nadya sudah menunjukku curiga. “Oke. Cerita,” tembaknya langsung.

“Hah?”

“Jangan hah hah. Kami semua di sini berkumpul demi gosip pernikahanmu.”

Jessica langsung mengangguk semangat.

“Betul. Aku mau tahu semuanya.”

Veronica menyipitkan mata.

Especially malam pertama.”

“VERONICA!”

Mereka langsung tertawa keras melihat mukaku yang panas sendiri.

Aku baru mau membalas ketika mendadak dadaku terasa sesak.

Aneh. Hangat. Penuh.

Lalu sebelum aku sadar, air mataku jatuh tanpa bisa aku kendalikan.

Semua langsung panik.

“EH?”

“VI?”

“Kenapa?”

Nadya bahkan langsung maju sampai hampir berdiri.

“Ada masalah apa? Bhre? Bangke, baru tiga minggu nikah dia bikin kau nangis?”

Mendengar reaksi Nadya yang brutal itu, aku langsung menggeleng cepat sambil menutupi wajah karena makin malu ketika tangisku malah semakin jadi.

“Nggak… bukan…,” kataku sesenggukan.

“Terus kenapa nangis?”

Aku tertawa kecil di sela tangis. Itu justru membuat mereka makin bingung.

“Aku bahagia…”

“Hah?”

“Aku bahagia banget…”

Aku tersedu lagi sambil memegangi dada sendiri.

I’m so happy, guys…”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Nadya berkedip lambat. “Sebentar. Ini…Kau nangis karena terlalu bahagia?”

Aku langsung mengangguk sambil masih sesenggukan.

Dan ketiga sahabatku itu serempak menghela napas panjang penuh penderitaan.

Lihat selengkapnya