Begini Saja Sudah Bahagia

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #63

Rumah

Bahkan setelah hampir setahun setelah kami menikah, aku masih kadang terbangun di pagi hari dan membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa ini semua sungguh terjadi. Bahwa aku benar-benar tinggal bersama Pontius Bhre Nareswara. Bahwa laki-laki yang selama bertahun-tahun hanya hidup di wilayah aman khayalanku kini ada di sampingku setiap malam, hadir raganya, secara fisik. Bahwa aku tidak lagi harus menunggu pesan darinya. Tidak lagi harus mencari alasan untuk bertemu. Tidak lagi harus menyimpan perasaan dalam diam. Karena sekarang kami pulang ke rumah yang sama.

Rumah.

Aku masih suka menyebutnya begitu, meskipun secara teknis kami tinggal di apartemen. Apartemen baru. Apartemen kami. Bukan apartemenku. Bukan juga rumah lamanya.

Mas Bhre sebenarnya masih memiliki rumah yang dulu ia tinggali bersama Novi. Aku bahkan pernah mengatakan bahwa ia tidak perlu menjualnya. Tidak ada yang salah dengan rumah itu. Tidak ada yang perlu dibuang hanya karena hidup berubah arah.

Tetapi ia hanya tersenyum waktu itu. Lalu berkata pelan, “Saya tahu.”

“Terus kenapa mau dijual?”

Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Karena saya sudah selesai dengan bab itu.”

Aku masih ingat bagaimana ia memandang ke luar jendela ketika mengatakannya. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penyesalan. Tidak ada usaha melupakan. Hanya ketenangan seseorang yang sudah berdamai.

“Bukan karena saya ingin menghapus Novi, dan bukan karena rumah itu membawa kenangan buruk,” Ia lalu menoleh kepadaku. Tersenyum. Sehangat biasanya. “Tapi sekarang saya mau mulai hidup yang baru. Sama kamu.”

Sampai hari ini, kalimat itu masih mampu membuat dadaku penuh. Karena aku tahu betapa berat harga yang harus dibayar untuk sampai ke sana. Aku tahu berapa banyak kehilangan yang pernah ia alami. Aku tahu berapa banyak ketakutan yang pernah kami hadapi. Aku tahu berapa banyak alasan yang seharusnya membuat kami tidak pernah sampai di titik ini. Tetapi hidup, toh ternyata, tetap membawa kami ke sini.

 

***

 

Pagi itu matahari baru mulai masuk melalui celah gorden. Aku memeluk suamiku dari belakang di bawah selimut. Kulit bertemu kulit. Rasanya masih menjadi salah satu tempat favoritku di dunia.

Aku mengecup bahunya pelan. Lalu berkata, “Aku beruntung sekali punya Mas.”

Mas Bhre tertawa kecil. Suara tawanya masih membuatku bahagia sampai sekarang.

“Eh, kok?” katanya.

Aku mengangkat kepala.

“Lah memang.”

Ia berpikir sebentar. Lalu senyumnya berubah nakal. “Sebenarnya saya yang beruntung?”

“Kok bisa?” tanyaku.

"Bayangkan. Duda umur empat puluh lima dapat perawan.”

“MAS!”

Aku langsung memukul lengannya. Ia malah tertawa semakin keras.

“Nakal!”

“Kan benar.”

“Jangan dibahas terus!”

“Lucu soalnya.”

Aku menutupi wajah dengan bantal. Ia menarikku lagi ke dalam pelukannya. Masih tertawa.

Lalu aku mendongak.

“Eh, nggak kok. Tetap aku yang beruntung sebenarnya."

“Kok?”

“Dapat yang berpengalaman.”

Ia langsung mengangkat alis.

Sedangkan aku melanjutkan dengan sangat serius. “Jago lagi.”

Mas Bhre sampai tertawa begitu keras sampai harus memejamkan mata. Dan aku ikut tertawa. Karena memang begitulah kami. Bahkan setelah menikah. Bahkan setelah semua perjuangan panjang itu. Kami tetap dua orang aneh yang terlalu suka saling menggoda.

Tawa itu kemudian perlahan mereda. Tetapi kehangatan di antara kami tidak ikut hilang. Aku kembali memeluknya. Rapat. Malas bergerak. Malas bangun. Malas menghadapi dunia.

“Mas.”

“Ya?”

“Jangan bangun dulu.”

“Lho.”

“Rumah nggak usah diberesin.”

Ia tertawa.

"Vi...”

Lihat selengkapnya