BAB 1 — Murid Pindahan
Alasan resmi Jati Pranawa pindah ke SMA Wijaya Kusuma adalah karena pekerjaan ayahnya berpindah kota.
Dalam tiga tahun terakhir, ia sudah dua kali membongkar kamar karena pekerjaan ayahnya. Jati belajar tidak menempel poster terlalu kuat, tidak membeli terlalu banyak barang, dan tidak gampang berjanji akan tinggal lama. Kepindahan kali ini terasa berbeda. Ia datang ke sekolah yang memang ingin dipertahankannya.
Alasan sebenarnya sudah menunggunya di depan gerbang, melambaikan tangan terlalu tinggi.
“Jati!”
Naya Prameswari berlari kecil menghampirinya. Ikat rambut putihnya hampir terlepas, tetapi senyumnya tetap lebar. Jati baru menurunkan ransel dari bahu ketika Naya sudah berdiri di depannya, memandang dari ujung rambut sampai sepatu seperti sedang memeriksa barang kiriman.
“Kamu benar-benar datang,” katanya.
“Aku juga terkejut.”
Naya mencubit lengannya. “Dua bulan aku bantu urus perpindahanmu, jawabanmu begitu?”
Jati menahan senyum. “Terima kasih sudah memindahkanku secara paksa.”
“Tidak paksa. Kamu tanda tangan sendiri.”
“Setelah ditelepon sebelas kali.”
“Itu namanya dukungan.”
Pagi pertama itu terasa lebih ringan daripada yang Jati bayangkan. Gedung utama SMA Wijaya Kusuma tampak baru dicat, tetapi bagian timurnya masih mempertahankan dinding kusam, jendela tinggi, dan atap tua yang ditumbuhi lumut. Di antara dua bangunan berdiri menara kecil tempat pengeras suara sekolah dipasang. Sekilas, sekolah itu seperti sedang berusaha tampil modern sambil menyembunyikan usia sebenarnya.
Naya langsung menjelaskan banyak hal.
“Gedung utama buat kelas sebelas dan dua belas. Laboratorium di belakang. Perpustakaan dekat aula. Jangan masuk gedung timur kalau tidak ada guru.”
“Lantainya rapuh.”
“Jawaban yang terlalu normal.”
Naya meliriknya. “Kamu berharap aku bilang ada penunggu?”
“Aku berharap tur sekolah ini punya sedikit hiburan.”
“Kamu baru lima menit di sini.”
“Dan sudah dilarang masuk satu gedung. Lumayan.”
Naya tertawa, lalu merapikan kerah seragam Jati yang miring. Gerakannya singkat dan biasa, tetapi cukup membuat dua siswi yang lewat menoleh sambil tersenyum penuh arti.
Jati tidak peduli. Salah satu alasan ia setuju pindah memang supaya tidak perlu lagi menjalani hubungan lewat panggilan video, pesan singkat, dan janji bertemu yang terus gagal.
“Pulang nanti jangan langsung kabur,” kata Naya.
“Ada apa?”
“Aku mau tunjukkan tempat makan di seberang sekolah.”
“Kalau makanannya buruk?”
“Kita putus.”
“Ancaman yang masuk akal.”
Mereka berpisah di depan kelas XI-B karena Naya harus kembali ke ruang jurnalistik. Jati masuk dan segera menjadi pusat perhatian dengan cara yang paling tidak ia sukai: berdiri di depan kelas sambil diperkenalkan wali kelas.
Setelah sambutan singkat dan beberapa tatapan penasaran, ia diarahkan ke bangku kosong di sebelah seorang siswa berambut agak gondrong dengan wajah ramah.
Siswa itu menggeser kursinya.
“Dimo Saputra,” bisiknya. “Aku ditugaskan jadi pemandu khusus supaya kamu tidak tersesat, tertipu, atau masuk kantin saat Bu Ranti sedang marah.”
“Bu Ranti siapa?”
“Penjaga kantin. Orang paling berkuasa ketiga setelah kepala sekolah dan ibu saya.”
Jati duduk. “Yang kedua?”
“Ibu saya kalau sedang pegang sapu.”
Jati menoleh, memastikan Dimo tidak bercanda. Dimo bertahan dengan wajah serius selama dua detik, lalu terkekeh sendiri.
Pelajaran pertama berjalan lambat. Dimo beberapa kali menyelipkan komentar tentang guru, teman sekelas, dan kipas angin yang menurutnya hanya berputar untuk memberi harapan. Jati lebih banyak mendengarkan. Menjelang istirahat, ia sudah tahu siapa ketua kelas, siapa yang suka meminjam uang, dan siapa yang sebaiknya tidak diajak kerja kelompok karena akan menghilang pada hari presentasi.
Begitu bel berbunyi, Dimo berdiri paling cepat.
“Ayo. Aku tunjukkan pusat kebudayaan sekolah.”
“Kantin?”
“Betul. Semua gosip, utang, dan keputusan penting lahir di sana.”
Kantin SMA Wijaya Kusuma lebih ramai daripada ruang kelas. Bau minyak goreng, saus sambal, dan mi rebus bercampur dengan suara ratusan murid. Dimo membawa Jati ke meja kosong, lalu pergi membeli minuman.
Jati baru duduk ketika melihat seorang gadis berdiri dekat meja murid kelas dua belas.