BAB 2 — Gorengan yang Bisa Terbang
Jati baru sadar ada dua jenis orang di SMA Wijaya Kusuma: mereka yang makan gorengan dengan tenang, dan mereka yang harus menjaganya seperti harta warisan. Dimo termasuk jenis kedua.
Sejak dituduh mencuri bakwan milik kakak kelas sehari sebelumnya, ia datang ke kantin dengan rencana yang menurutnya tidak mungkin ditembus. Ia membeli sepiring campuran tahu isi, bakwan, dan tempe, lalu duduk di sudut meja sambil melindungi piring itu dengan kedua lengan.
“Kalau ada yang mendekat, aku gigit,” katanya.
Jati duduk di depannya. “Orang atau gorengannya?”
“Situasional.”
Naya belum datang. Ia masih mengikuti rapat singkat jurnalistik, jadi Jati menemani Dimo makan sambil mendengarkan teori panjang tentang pencurian bakwan kemarin.
“Pelakunya profesional,” kata Dimo. “Aku yakin dia sudah mengincar korban sejak pagi.”
“Korban itu bakwan?”
“Korban itu aku.”
“Yang hilang bakwannya.”
“Nama baikku ikut hilang.”
Jati hampir menjawab ketika melihat Kirana berdiri di belakang Dimo.
Hari ini gadis itu mengikat rambutnya lebih tinggi. Seragamnya masih model lama, lengkap dengan lambang sekolah yang berbeda. Ia menatap piring Dimo dengan sorot penuh perhitungan. Jati menggeleng pelan.
Kirana menyeringai, lalu mengangkat kedua tangan. Telapak tangannya kosong.
Satu tahu isi di piring Dimo bergerak.
Pelan-pelan, nyaris tak terlihat. Hanya bergeser selebar kuku, berhenti, lalu bergerak lagi mendekati tepi piring.
Jati mencondongkan tubuh.
Jati tak melihat benang atau tangan di bawah meja. Kirana bahkan berdiri satu langkah dari piring dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tahu isi itu meluncur lebih cepat.
“Dim,” kata Jati.
“Apa?”
“Pegang piringmu.”
Dimo langsung menutupinya dengan kedua telapak tangan. “Kenapa?”
Tahu isi itu berhenti di antara jari-jarinya.
Kirana mendecakkan lidah. Jati bangkit dan mencoba menangkap pergelangan tangannya. Kirana menghindar sambil tertawa, lalu bergerak memutari meja.
Satu bakwan melompat dari celah lengan Dimo, jatuh ke meja, lalu meluncur seperti didorong angin.
Dimo menjerit.
“Itu terbang!”
“Tidak terbang,” kata Jati sambil mengejar bakwan yang meluncur ke ujung meja. “Cuma bergeser.”
“Gorengan tidak punya urusan bergeser sendiri!”
Bakwan itu jatuh dari meja. Sebelum menyentuh lantai, benda itu berhenti sepersekian detik di udara, lalu melesat ke tangan Kirana.
Jati terpaku.
Kirana mengangkat bakwan itu dengan bangga. “Nah.”