Bel Terakhir Untuk Kirana

A.A.Pusung
Chapter #3

BAB 3 — Kursi Dimo Bergerak Sendiri

BAB 3 — Kursi Dimo Bergerak Sendiri

Dimo datang ke kelas pagi-pagi dengan dua keputusan penting.

Pertama, ia tidak akan membeli gorengan selama seminggu.

Kedua, ia tidak akan duduk membelakangi pintu.

“Kenapa?” tanya Jati saat meletakkan ransel.

“Supaya aku bisa melihat siapa pun yang mendekat.”

“Takut dituduh mencuri lagi?”

“Aku takut gorengannya menuntut balas.”

Jati menarik kursinya. “Kamu tahu itu tidak masuk akal.”

“Yang tidak masuk akal itu bakwan berhenti di udara. Tapi kamu tetap mengejarnya sampai lorong timur.”

Jati tidak punya jawaban yang bagus.

Ia memang kembali ke lorong buntu itu setelah Naya menyusulnya ke kantin. Kirana tetap tidak ditemukan. Jati memeriksa pintu gudang, jendela, bahkan kolong bangku tua di dekat tangga. Tidak ada jalan keluar yang mungkin dipakai tanpa melewatinya.

Kirana pasti tahu tempat persembunyian yang belum ia temukan.

Penjelasan itu terdengar cukup masuk akal, selama Jati tidak mengingat bagaimana bakwan Dimo sempat menggantung di udara.

“Jangan bilang kamu masih mencari anak berseragam lama itu,” kata Dimo.

“Namanya Kirana.”

“Bagus. Teman khayalanmu punya nama.”

“Dia bukan teman khayalan.”

“Buktikan.”

Sebelum Jati menjawab, kursi Dimo bergeser sedikit ke belakang.

Dimo yang sedang hendak duduk kehilangan keseimbangan. Ia berhasil mencengkeram meja, tetapi lututnya membentur laci.

“Aduh!”

Beberapa teman menoleh.

Jati juga menoleh, lalu melihat Kirana berjongkok di belakang kursi dengan kedua tangan memegang sandarannya. Wajahnya cerah sekali, seperti anak kecil yang baru menemukan permainan baru.

“Kirana,” desis Jati.

Dimo memegangi lutut. “Kenapa kamu menyebut namanya setelah mendorong kursiku?”

“Bukan aku.”

“Kamu berdiri paling dekat.”

“Kirana yang menggesernya.”

Dimo melihat ke belakang kursi. Kirana sudah berdiri di sampingnya, hanya sejengkal dari bahunya.

“Tidak ada siapa-siapa,” kata Dimo.

“Dia di sebelahmu.”

Dimo langsung menjauh. “Jangan bilang begitu. Bulu kudukku punya hak untuk tenang.”

Kirana mengangkat kedua tangan dan meniup ujung jarinya seperti pesulap yang baru menyelesaikan pertunjukan.

Jati menatap tajam. “Berhenti.”

“Baru sekali,” katanya.

“Sudah cukup.”

Dimo memandang Jati. “Kamu menyuruh siapa berhenti?”

“Kirana.”

“Yang tidak ada?”

Lihat selengkapnya