BAB 4 — Jawaban Misterius di Papan Tulis
Dimo datang ke kelas dengan membawa kapur tulis sendiri.
Bukan satu batang, melainkan satu kotak kecil yang dibungkus plastik bening dan diikat karet gelang.
Jati menatap benda itu saat Dimo meletakkannya di sudut meja.
“Kamu mau buka usaha?”
“Cadangan pertahanan.”
“Pertahanan dari apa?”
Dimo melirik kursinya, lalu menurunkan suara. “Kirana.”
Nama itu diucapkannya seperti nama tersangka yang sedang diburu satu sekolah.
Sejak pesan aneh muncul di buku Jati kemarin, Dimo mulai setengah percaya bahwa ada seseorang yang mengerjai mereka. Ia belum percaya orang itu bernama Kirana, apalagi percaya bahwa Kirana bisa berdiri tepat di sampingnya tanpa terlihat. Ia juga tidak punya penjelasan untuk kursi yang bergeser sendiri, udara dingin di dekat telinganya, atau tulisan yang muncul dengan pena Jati.
Karena itu, Dimo memilih jalan tengah: percaya ada pelaku, tetapi tidak mau memikirkan pelakunya seperti apa.
“Kapur ini sudah aku tandai,” katanya. “Kalau ada yang hilang, kita cocokkan panjangnya.”
“Kamu mengukur semua batang?”
“Tentu.”
“Pagi-pagi?”
“Aku orang yang teliti kalau terancam.”
Dari belakang Dimo, Kirana membaca daftar ukuran yang ditempel pada kotak. Ia kemudian mengambil satu batang kapur tanpa membuka plastik.
Batang kapur itu terangkat pelan dari sela tutup yang longgar, melayang beberapa senti, lalu masuk ke telapak tangannya.
Napas Jati tertahan.
Dimo menatap kotaknya. “Kenapa isi sebelah kiri berkurang?”
“Kirana mengambil satu.”
Dimo memejamkan mata. “Aku belum siap menerima laporan lisan dari orang yang cuma bisa kamu lihat.”
Kirana memutar kapur di antara jarinya. “Bilang terima kasih. Aku pinjam.”
“Katanya dia pinjam,” ujar Jati.
“Bilang kalau patah, ganti.”
Kirana mematahkan kapur itu menjadi dua.
Jati menutup wajah dengan satu tangan.
Dimo langsung membuka kotaknya. “Aku dengar suara patah.”
“Angin,” kata Jati.
“Kapur tidak patah karena angin!”
Sebelum perdebatan berkembang, guru matematika masuk membawa buku tebal dan tumpukan lembar latihan. Kelas mendadak tenang. Bu Ratna terkenal tidak perlu membentak untuk membuat murid-murid takut. Cukup berdiri di depan kelas dan memandang satu bangku selama tiga detik, orang di bangku itu biasanya akan mengakui kesalahan yang bahkan belum dilakukan.
Hari itu ia menulis lima soal di papan tulis.
“Kerjakan nomor satu sampai lima. Sepuluh menit. Setelah itu kita bahas.”
Keluhan tertahan terdengar dari berbagai sudut.
Jati membuka buku. Dimo menatap soal pertama seolah berhadapan dengan pesan dari peradaban asing.
“Ini angka semua,” bisiknya.
“Memang matematika.”
“Kenapa tidak ada petunjuk emosional?”
“Kerjakan.”
Di depan kelas, Kirana berdiri di samping papan. Ia membaca soal-soal itu dengan kepala miring, lalu menatap Jati. Senyumnya langsung membuat firasat buruk muncul. Jati menggeleng. Kirana mengangkat setengah batang kapur.
“Jangan,” desis Jati.