BAB 5 — Guru yang Tertidur
Kirana berdiri cukup lama di depan foto lama itu.
Jati sempat mengira ia sedang mencari seseorang di antara barisan murid. Namun tatapan Kirana tidak benar-benar tertuju pada satu wajah. Matanya bergerak dari gedung timur di latar belakang, ke seragam yang dikenakan para siswa, lalu ke bagian bawah bingkai yang sudah pudar.
“Ada yang kamu kenal?” tanya Jati.
Kirana berkedip, baru menyadari Jati masih di sampingnya.
“Tidak.”
“Wajahmu bilang sebaliknya.”
“Wajahku sering berbohong.”
“Kamu sekolah di sini sejak kapan?”
“Sejak sekolah ini belum punya murid cerewet bernama Jati.”
“Itu bukan jawaban.”
Kirana mengembalikan senyum tipis ke wajahnya. “Berarti pertanyaannya kurang bagus.”
Ia berjalan pergi sebelum Jati sempat menahannya. Seperti biasa, dua siswa yang datang dari arah berlawanan tidak menoleh atau menegur. Mereka melewati Kirana begitu saja, sementara gadis itu menyelip di antara keduanya dengan mudah.
Jati masih memandangi foto ketika bel berbunyi.
Ia kembali ke kelas dengan pertanyaan yang belum terjawab dan dua puluh soal tambahan yang belum selesai.
Dimo sudah duduk sambil menyalin rumus dengan ekspresi orang yang sedang menulis surat wasiat.
“Di mana teman perusak masa depan itu?” tanyanya.
“Pergi.”
“Bagus. Semoga pindah sekolah.”
Kirana muncul di ambang pintu tepat setelah kalimat itu selesai. Ia menyilangkan tangan dan menatap Dimo.
“Aku dengar,” katanya.
Jati buru-buru membuka buku untuk menyembunyikan senyumnya.
Dimo menyipitkan mata. “Dia di sini, ya?”
Pelajaran setelah istirahat adalah sejarah. Pak Bowo masuk membawa buku tipis, meletakkannya di meja, lalu meminta murid-murid membaca bab tentang pergerakan nasional.
Lima menit pertama berjalan normal.
Pada menit ketujuh, suara Pak Bowo mulai melambat.
Pada menit kesepuluh, ia duduk dengan alasan ingin mengawasi dari dekat.
Pada menit kedua belas, dagunya jatuh ke dada.
Kelas jatuh sunyi.
Semua murid memperhatikan guru mereka yang tertidur di kursi. Napas Pak Bowo terdengar berat. Beberapa detik kemudian, terdengar dengkuran pendek.
Dimo menoleh kepada Jati. “Kita harus bangunkan?”
“Kalau kamu berani.”
“Nilai sejarahku belum cukup aman untuk mengambil risiko.”
Di samping meja guru, Kirana menatap Pak Bowo dengan kagum.
“Hebat,” katanya. “Dia bisa tidur di depan tiga puluh orang.”
“Jangan macam-macam,” bisik Jati.
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Itu yang membuatku khawatir.”
Pak Bowo mendengkur lagi, kali ini lebih panjang.
Beberapa murid menahan tawa. Ketua kelas berusaha memberi isyarat agar semua tetap tenang, tetapi tak seorang pun kembali membaca. Satu kelas menunggu sesuatu terjadi.
Kirana melihat pengeras suara kecil di sudut atas ruangan.
Matanya langsung bersinar.
Jati mengikuti tatapannya. “Tidak.”
“Aku belum bilang apa-apa.”