Hari menjelang siang, Marco, Bram, dan Miko — ketiganya mengenakan jas elegan sambil membawa koper berisi uang — tiba di Gedung Synergy. Seperti biasa, mereka tampak layaknya staf atau pekerja dari Grup Synergy. Padahal, pakaian rapi itu hanyalah kedok semata. Tujuan kedatangan mereka adalah menyerahkan hasil pungutan dari wilayah Kota Selatan kepada Grup Synergy.
Di lantai paling atas gedung, terdapat ruangan khusus yang tertutup rapat. Di sanalah Marco akan bertemu dengan Leonard untuk menyerahkan uang hasil upeti serta keuntungan dari penjualan barang terlarang milik Grup Synergy. Bram dan Miko berdiri berjaga di depan pintu besi ruangan itu, sementara beberapa anak buah Leonard juga ikut menjaga dengan waspada. Sesuai aturan Grup Synergy, hanya orang-orang penting seperti Marco dan Leonard yang diizinkan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Marco meletakkan koper berisi uang di atas meja kaca berbentuk bulat, lalu menyalakan cerutu mahal. Dengan santai, ia menyilangkan kaki dan membuka kunci koper itu, memperlihatkan tumpukan uang dalam jumlah besar, lalu mendorongnya ke hadapan Leonard. Leonard pun sudah menyalakan cerutu mahalnya, menikmati momen penerimaan setoran bulanan itu dengan santai, ditemani sebotol minuman berkelas tinggi.
“Uang setoran bulan ini sesuai target. Semua aman, tidak ada masalah sedikit pun,” ucap Marco sambil meniupkan asap cerutu ke atas dengan perasaan puas.
“Bagus. Pertahankan terus dengan baik. Jangan sampai membuat kesalahan sekecil apa pun. Kau pasti tahu sendiri bagaimana akibatnya jika Tuan Reynald sudah murka,” balas Leonard sambil menghitung uang di dalam koper dengan teliti.
“Hahaha, tidak akan ada kesalahan sedikit pun dari Marco, penguasa wilayah Utara, Barat, dan Selatan. Ngomong-ngomong, apakah ada perintah baru dari Tuan Reynald?” angkuh Marco lalu bertanya dengan wajah serius.
“Malam ini ada target baru, tapi aku yang ditugaskan untuk membereskannya. Ini hanya masalah kecil, tak perlu banyak orang untuk mengurusnya,” jawab Leonard, lalu menutup kembali koper itu dan mengisap cerutu di tangannya.
“Target apa?” tanya Marco lagi, penasaran.
“Seperti biasa, hanya menghabisi seorang pengkhianat,” jawab Leonard singkat, lalu menuangkan minuman ke dalam gelas kecil dan meletakkannya di depan Marco sebagai tanda penghargaan atas penyerahan setoran bulanan itu.
“Baiklah. Kalau begitu, aku ingin membahas satu hal: belakangan ini, jumlah pemakai barang dagangan kita di wilayah Utara dan Barat cukup meningkat pesat. Tolong sampaikan kepada Tuan Reynald agar persediaan barangnya ditambah sedikit lebih banyak,” jelas Marco, lalu meneguk isi gelas di hadapannya hingga habis.
“Itu hal mudah, malah kabar yang sangat bagus. Tuan Reynald pasti akan senang mendengar kenaikan ini. Apakah kau ingin penambahannya sekarang juga?” tanya Leonard.
“Tentu harus sekarang juga,” jawab Marco tegas.
“Baik, tunggu sebentar.”
Leonard langsung mengirim pesan singkat kepada anak buahnya. Tidak lama kemudian, dua orang anak buahnya masuk ke ruangan sambil membawa tiga koper besar berisi barang haram — berupa pil dan serbuk — yang siap diedarkan kembali. Sesuai permintaan Marco, jumlah barangnya ditambah satu koper karena permintaan pemakai di wilayah kekuasaannya semakin banyak.
Setelah meletakkan ketiga koper itu di atas meja, kedua anak buah Leonard itu bergegas keluar kembali. Leonard langsung mendorong ketiga koper itu ke arah Marco.
“Jangan sampai ada kabar barang tidak habis terjual, karena Tuan Reynald sama sekali tidak menyukai kata-kata itu,” tegas Leonard.
“Hahaha, kata-katamu selalu saja seperti orang tua yang sedang menakut-nakuti anak kecil. Sampai jumpa bulan depan!” ucap Marco sambil mematikan cerutunya di atas asbak kaca, lalu berdiri dan melangkah pergi.
Begitu Marco keluar dari ruangan, Bram dan Miko segera masuk untuk mengangkat ketiga koper yang ada di atas meja.
“Mari Bos!” ucap Bram dan Miko serempak, lalu bergegas keluar ruangan sambil membawa barang-barang itu.
Leonard menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap koper berisi uang setoran yang masih tergeletak di meja, lalu mengisap cerutu di tangannya, menikmati momen yang sudah menjadi rutinitasnya setiap kali Marco datang setor menyerahkan uang.
Waktu terus berjalan. Siang berganti sore, dan sore pun berubah menjadi malam. Malam itu, Leonard dan Natalia mulai menyiapkan rencana yang telah disusun sejak siang hari: mereka bersiap untuk menghabisi Kina Yura dan istrinya, serta menculik kedua anak laki-laki Kina Yura dalam keadaan hidup-hidup.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah seharian hingga malam Kina Yura dikurung tanpa diberi makan atau minum. Hal itu tentu membuatnya merasa sangat lapar, lemas, dan haus tiada tara. Di ruangan berdinding besi itu tidak ada makanan maupun air setetes pun. Tepat pukul sembilan malam, pintu besi yang kokoh itu terbuka dengan sendirinya.