belati dan verisai

SAKSI PENA
Chapter #5

#5 mulai pencucian otak Raga Yura

Leonard di dalam mobil yang terus meluncur di jalan raya besar, terdiam melamun tidak merasa percaya anak sekecil Raga sudah bisa berusaha menyelamatkan adiknya, dengan cara nekat menendang ke sungai yang airnya deras, dan yang belum tentu adiknya bisa selamat dari air sungai deras.

 “Sialan kenapa sampai bisa kecolongan sama anak kecil ini, gimana nanti buat alasan sama Tuan Reynald!” gumam Leonard dalam hatinya cukup merasa bingung dan was-was jika sampai Reynald marah.

 Saat Leonard melamun, notifikasi dering pesan ponselnya berbunyi. Ia bergegas merogoh ponsel di saku celananya, sebuah pesan kiriman dari Natalia masuk. Leonard langsung membalas agar Natalia bersiap-siap dan memberitahukan jika anak yang satunya hanyut terbawa derasnya air sungai.

 "Siap-siap semuanya," perintah Leonard dingin.

 "Siap Boss," jawab anak buahnya.

 Mobil memasuki sebuah perempatan besar yang sepi. Lampu jalan menyinari aspal basah dengan cahaya kekuningan.

 Tidak ada kendaraan lain, tidak ada saksi. Raga mengangkat wajahnya perlahan.

 "Om... aku mau di bawa ke mana?" tanyanya menyimpan ketakutan.

 Belum sempat Leonard menjawab...

 BRAAAKKK!!!

 Benturan dahsyat menghantam bagian belakang mobil.

 "Aaaahhh!!"

 Tubuh Raga terpental dari kursinya, anak buah Leonard langsung menangkap tubuh kecil itu sebelum kepalanya membentur kaca.

 Mobil berputar liar, ban berdecit memekakkan telinga, sopir membanting setir mati-matian.

 "Boss! Kita ditabrak!" teriaknya pura-pura panik.

 "Apa?!" Leonard pura-pura terkejut.

 Dari kaca belakang, sebuah mobil hitam muncul seperti binatang buas yang sedang berburu. Lampu depannya berkedip-kedip liar.

 BRAKK!!

 Benturan kedua terjadi, kaca belakang retak. Raga menjerit ketakutan.

 "Aku takut Om?!" Raga semakin ketakutan.

 "Mereka menemukan kita!" seru Leonard pura pura.

 Leonard menoleh. Tatapannya dipenuhi kepanikan yang dibuat-buat.

 "Diam kau jangan banyak bicara!" bentak kembali Leonard.

 Raga langsung diam, menahan semua rasa ketakutan dalam hatinya.

 DOR!!

 Sebuah peluru menembus kaca belakang, pecahan kaca beterbangan. Raga refleks menutup kepalanya sambil berteriak.

 "Aaaahhh!"

 "Boss! Mereka menembak!" teriak salah satu anak buah Leonard.

 Mobil Natalia memepet dari sisi kanan, lalu muncul dari jendela mobil sambil mengarahkan pistol.

Lihat selengkapnya