Arga membeku sesaat setelah pintu tertutup.
Ada jeda sepersekian detik sunyi, terlalu sunyi hingga dadanya terasa dihantam kesadaran yang datang terlambat.
Rossa pulang sendiri. Malam. Hujan. Ancaman belum berhenti.
“bodoh…” gumam Arga pelan.
Tanpa berpikir panjang, ia meraih ponselnya dan segera menekan nomor asistennya.
“Yuda,” ucap Arga begitu panggilan terhubung, suaranya tegas tapi jelas menyimpan kegelisahan, “kamu masih di gedung?”
“Iya, Pak. Baru mau turun,” jawab Yuda cepat.
“Kejar Rossa sekarang. Pastikan dia belum keluar gedung. Antar dia pulang ke apartemen. Jangan tinggalkan dia sendirian, mengerti?”
Nada Arga tak memberi ruang bantahan.
“Siap, Pak. Saya langsung ke lobby.”
Panggilan terputus.
Arga langsung mengambil jasnya dan bergegas keluar ruang kerja.
Lobby Gedung, Malam.
Rossa sudah hampir mencapai pintu utama ketika suara langkah cepat terdengar di belakangnya.
“Rossa!”
Ia menoleh, sedikit terkejut. “Arga?”
Arga berhenti di depannya, napasnya sedikit terengah. “Maaf. Aku… aku nggak seharusnya membiarkan kamu pulang sendiri.”
Rossa mengernyit, lalu tersenyum kecil. “Aku nggak apa-apa, Ga. Aku kan udah gede.”
“Bukan soal itu,” potong Arga, kali ini suaranya lebih rendah. “Aku nggak tenang.”
Sebelum Rossa sempat menjawab, Yuda datang menghampiri mereka. “Pak Arga.”
Arga mengangguk singkat. “Antar Rossa pulang. Pastikan dia sampai dengan aman. Tunggu sampai dia masuk apartemen.”
Yuda menoleh ke Rossa dengan sopan. “Mari, Mbak.”
Rossa menatap Arga, ada rasa hangat bercampur haru di matanya. “Kamu ini ya… CEO galak tapi ribet.”
Arga tersenyum tipis. “Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kelihatan ribet.”
Rossa tertawa kecil, lalu mengangguk. “Aku pulang dulu. Kamu jangan pulang terlalu malam.”
Arga mengangguk. “Kabarin aku begitu sampai.”
Rossa melangkah pergi bersama Yuda. Arga berdiri diam, menatap punggungnya hingga pintu kaca tertutup dan mobil mereka menghilang dari pandangan.
Baru setelah itu, Arga menghela napas panjang.
***
Sementara di dalam mobil.
Rossa menatap keluar jendela mobil, melihat lampu kota yang kabur oleh hujan. Ponselnya bergetar.
Arga.
"Kabarin aku terus. Jangan sungkan."
Rossa tersenyum kecil dan membalas.