Arga akhirnya melepaskan pelukan itu perlahan, tapi tangannya masih berada di bahu Rossa, seolah enggan memastikan jarak terlalu jauh.
“Aku antar kamu,” ucapnya tegas, tak memberi ruang penolakan.
“Yuda ikut dari belakang.”
Rossa menatapnya sesaat, lalu mengangguk kecil. “Iya…”
Perjalanan Pulang Malam.
Rossa duduk di kursi penumpang mobil Arga. Kabin terasa hening, hanya suara hujan yang memukul kaca dan desau wiper yang bergerak teratur. Mobil Yuda terlihat setia mengikuti dari belakang, jaraknya cukup dekat.
Arga menyetir dengan fokus penuh. Kecepatannya stabil, tidak sekencang tadi, tapi jelas waspada. Sesekali matanya melirik spion, memastikan tak ada kendaraan asing yang kembali mengikuti.
Rossa memeluk tasnya di dada. “Ga…”
“Hm?” Arga tak mengalihkan pandangan dari jalan.
“Maaf… aku jadi ngeribetin kamu.”
Arga langsung menoleh sekilas, alisnya berkerut. “Jangan pernah bilang gitu lagi. Kamu bukan beban.”
Rossa terdiam, lalu tersenyum kecil. “Aku cuma… takut.”
Arga menghela napas, suaranya lebih lembut. “Aku juga takut. Dan justru karena itu aku nggak akan ninggalin kamu sendirian.”
Mobil akhirnya berhenti di depan apartemen Rossa. Lampu-lampu gedung menyala tenang, seolah tak tahu ada ketegangan yang barusan lewat.
Arga turun lebih dulu, membuka pintu untuk Rossa. Hujan sudah mulai reda, tinggal gerimis tipis.
“Aku tunggu sampai kamu masuk,” katanya.
Rossa menatapnya, lalu mengangguk. “Hati-hati di jalan pulang, Ga.”
Arga tersenyum tipis. “Kamu yang bikin aku hati-hati.”
Rossa melangkah masuk ke lobby. Arga baru kembali ke mobil setelah melihat pintu tertutup sempurna. Ia memberi isyarat pada Yuda.
“Kamu pulang dulu,” kata Arga lewat ponsel. “Terima kasih.”
“Baik, Pak. Hati-hati.”
***
Rumah Orang Tua Arga.
Jam menunjukkan hampir sebelas malam saat mobil Arga memasuki halaman rumah besar yang sudah lama terasa asing baginya. Lampu teras masih menyala.
Begitu ia mematikan mesin dan turun dari mobil, pintu rumah terbuka.