Keesokan Harinya
Pagi di rumah itu selalu terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi.
Arga baru saja meneguk kopi pertamanya ketika suara mobil terdengar memasuki halaman.
Tak lama kemudian, suara tawa kecil memecah kesunyian.
“Om Arga!”
Leo berlari masuk lebih dulu, tas kecil di punggungnya hampir terlepas. Arga refleks berdiri dan menangkap tubuh kecil itu sebelum menabraknya.
“Hei, jagoan,” ucap Arga sambil tersenyum tipis. “Pagi-pagi udah lari maraton aja.”
Leo terkikik. “Papa sama Mama ikut!”
Arman masuk menyusul, rapi seperti biasa kemeja disetrika sempurna, jam mahal melingkar di pergelangan tangan. Di sampingnya, Mira tersenyum ramah, membawa kotak kue.
“Pagi, Ga,” sapa Arman ringan.
“Pagi,” jawab Arga singkat, mengangguk sopan.
Belum sempat percakapan berkembang, suara ayah mereka terdengar dari ruang tengah.
“Man, kamu datang.”
Nada itu berbeda. Lebih hangat. Lebih hidup.
Ayah mereka melangkah mendekat, wajahnya langsung berubah ketika menepuk bahu Arman. “Restoran kamu di Jakarta lagi penuh ya? Papa dengar kemarin ada investor asing tertarik.”
Arman tersenyum rendah hati. “Ya, Pa. Masih proses.”
“Bagus. Begitu dong. Fokus, konsisten,” kata sang ayah bangga. Lalu pandangannya beralih ke Arga sekilas, datar. “Kamu masih sibuk main kantor?”
Kata main itu seperti duri kecil yang ditancapkan pelan, tapi tepat.
Arga menahan napas. “Aku kerja, Pa.”
Ayahnya mendengus. “Iya, kerja. Tapi kerja bener itu kelihatan hasilnya. Bukan cuma jabatan.”
Mira melirik Arga, ada rasa tak enak di matanya. Leo yang masih di pelukan Arga memeluk leher pamannya lebih erat, seolah merasakan ketegangan yang tak ia mengerti.
“Papa,” sela Arman cepat, nadanya menengahi. “Arga juga sibuk. Jadi CEO nggak gampang.”
Ayahnya tersenyum tipis senyum yang tak pernah sampai ke mata.
“Papa tahu. Tapi Man, kamu ingat kan… beda caranya.”
Kalimat itu tak perlu dilanjutkan. Semua orang di ruangan itu tahu maksudnya.
Arga perlahan menurunkan Leo. “Main sama Mama ya,” katanya lembut pada keponakannya.
Ia melangkah ke dapur, mengambil air minum sekadar memberi jarak. Namun suara ayahnya tetap menyusul, seperti bayangan yang tak bisa dihindari.
“Papa cuma heran,” kata sang ayah, suaranya tenang tapi menusuk. “Dari dulu kamu selalu bikin masalah. Dari bolos sekolah, pergaulan nggak jelas… sampai kejadian di pantai itu.”
Tangan Arga berhenti di udara.
Ruangan seketika sunyi.