Belenggu Masalalu

Dinar sen
Chapter #21

Kecemburuan Rossa

Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya meraih kunci mobil.

“Aku berangkat dulu, kak.” katanya singkat sambil mengenakan jas.

“Jaga Leo,kak,” tambahnya pada Mira, lalu mengusap kepala keponakannya sekilas.

Arman menatap punggung adiknya yang menjauh. Ia tak mengatakan apa pun, tapi matanya berbicara Arga terluka, dan luka itu kali ini terlalu dalam untuk sekadar diabaikan.

Di dalam mobil, Arga menyetir dengan pikiran yang masih penuh. Jalanan pagi cukup lengang, langit mendung tipis seolah menyimpan hujan yang tertahan.

Ponselnya bergetar.

Yuda.

“Ya?” jawab Arga sambil tetap fokus ke jalan.

“Pak… saya mau lapor,” suara Yuda terdengar tidak biasa tegang, terburu-buru.

“Dita belum masuk kantor. Nggak bisa dihubungi dari pagi. Ponselnya nggak aktif.”

Alis Arga langsung berkerut. “Sejak kapan?”

“Sejak semalam, Pak. Saya kira dia lembur atau pulang ke rumah orang tuanya. Tapi barusan saya ke apartemennyakosong. Satpam bilang mobilnya juga nggak ada sejak malam.”

Jari Arga mengencang di setir.

“Yuda,” ucapnya pelan tapi berat, “kapan terakhir kamu kontak dia?”

Hening sejenak di seberang.

“Tadi malam. Sekitar jam sembilan. Dia bilang mau pulang cepat… habis itu nggak balas lagi.”

Dada Arga terasa dingin.

Dita.

Bukan sekadar senior.

Bukan sekadar rekan kerja.

Perempuan itu sudah seperti adik baginya. Cerdas, keras kepala, dan selalu berdiri di sisi yang benar bahkan saat itu berarti menolak Hendro, meski konsekuensinya berat. Arga tahu betul, penolakan Dita pada Hendro dulu bukan hal sepele. Hendro tidak pernah terbiasa ditolak.

“Pak?” suara Yuda terdengar semakin gelisah. “Saya takut ada hubungannya sama ancaman kemarin… sama Mbak Rossa.”

Arga menghembuskan napas tajam. Pikirannya bergerak cepat, menghubungkan potongan-potongan yang sejak kemarin terasa tak beres.

Ancaman anonim.

Sedan hitam.

Sekarang Dita menghilang.

“Yuda,” kata Arga tegas, “jangan panik. Tapi dengarkan aku baik-baik.”

“Siap, Pak.”

“Kamu ke kantor polisi. Laporkan orang hilang. Pakai namaku kalau perlu. Setelah itu, hubungi tim keamanan internal cek CCTV area apartemen Dita, parkiran kantor, semua rute biasa yang dia lewati.”

“Baik, Pak.”

“Aku juga akan hubungi seseorang,” lanjut Arga, suaranya mengeras. “Dan Yuda… jangan coba-coba bergerak sendiri tanpa pengawalan. Aku nggak mau kehilangan orang lagi.”

Lihat selengkapnya